Latest Post :
Recent Posts
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerita. Tampilkan semua postingan

A Girl In Love

Cinta sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan satu kata. Cinta memikat dengan tajam dan berbeda. Cinta suatu hal abstrak  dengan definisi dan efek yang berbeda, tapi dapat kurasa. Cinta daya tarik baru seperti sihir, dapatkah kau menolaknya? Yah cinta, cinta, dan cinta, suatu hal yang paling umum diucapkan umat manusia terutama kaum muda. Cinta, cinta dan cinta suatu kata yang menjadi trending topic sepanjang masa.Cinta, cinta, dan cinta suatu hal yang membuat orang yang terinfeksi olehnya menjadi berbeda. Cinta, cinta, dan cinta yaah kata yang akan menjadi panjang jika kita membahasnya.
Cinta?yah mungkin itulah yang akan kuceritakan padamu, suatu hal yang pasti kau mengenalnya bahkan kau juga pernah merasakannya. Dari mana akan ku mulai kisahku?itu merupakan pertanyaan yang membingungkan mengingat perjalanan hidupku yang berhiaskan kisah cinta sudah berjalan hitungan tahunan. Maka akan sangat membingungkan jika aku mengisahkan semuanya padamu. Oleh karenanya disini aku akan mengisahkan kisah cintaku yang masih hangat di ingatan.
Pertama, perkenalkan aku Caren Angelina Hulson, sebut saja Caren. Sangat mudah jika kau ingin tahu seperti apa diriku. Tinggal cari perempuan bertubuh kurus, dan pendek yang Nampak kecil dengan wajah pas-pasan, berambut lepek, dan bersuara nyaring, ditambah tak bisa diam. Huft, sulit mengakuinya tapi begitulah aku adanya, tak ada satupun hal yang dapat ku banggakan. Walau terkadang aku sering mendapat pujian dan hampir tak mendapat cacian, akan tetapi tetap saja aku merasa buruk. Dengan tubuhku yang kecil, bukan berarti aku tak aktif sama sekali, aku mengikuti organisasi disekolah, dan 4 ekstra kulikuler, ditambah lagi baru-baru ini aku juga mengikuti organisasi diluar sekolah yang bisa dikatakan bertaraf internasional. Dengan kegiatan-kegiatan yang aku ikuti, sudah jelas membuatku sangat sibuk, bahkan terasa akan gila jika ditambah ulangan-ulangan, tugas-tugas, dan padatnya acara yang ada. Yah, kupikir deksripsi bertele-tele di atas cukup untuk mewakili seperti apakah diriku.
Cukup untuk perkenalanku, sekarang akan kumulai kisahku. Kisah yang kuceritakan ini adalah kisahku yang baru saja ku alami. Yaah walaupun aku masih baru satu semester dengan baju putih abu-abu ini, bukan berarti aku masih belum punya kisah cinta di bangku SMA. Walau waktu yang kuhabiskan di bangku SMA masih terhitung bulanan, tetapi aku setidaknya sudah menyukai 2 orang, dan keduanya pun teman satu kelasku. Sangat mengherankan memang dalam hitungan bulan sudah jatuh hati pada dua orang. Padahal tak biasanya aku seperti ini. Di kehidupanku sebelumnya butuh setidaknya tahunan untuk aku dapat jatuh hati pada seseorang. Tetapi sekarang?dalam kurun waktu enam bulan, sudah dua orang? -_-
Hah, apa mungkin aku labil?ataukah mereka yang terlalu memikat?.entahlah aku juga mati kebingungan memikirkannya. Dimulai dari hitungan kurang lebih dua bulanan ketika aku sudah mulai akrab dan dekat dengan teman-teman baruku. Aku merasa mulai menyukai seseorang tanpa sepengetahuan siapapun. Aku tidak tau mengapa, tapi mungkin karena rasa humornya. Sebut saja dia Jordan, pria tinggi, yang memiliki karakteristik sama denganku yaitu kurus. Yah bisa dibilang aku dekat dengannya, sering kali aku juga bercanda dan berbicara dengannya. Ditambah dengan kabar dari teman-teman kelas bahwa ia menyukaiku, membuat rasa sukaku bertambah.
Tetapi ini hanya hampir, sangat disayangkan ternyata di tengah perjalanan ia menyukai teman sekelasku yang lain, dan bisa dibilang seperti ia lebih berpaling dan memilihnya. Sebut saja ia Melly, perempuan dengan rambut tebal nan indah, bertubuh ideal, dan mempunyai paras yang cantik. Sakit?tidak sama sekali, wajar saja jika ia lebih memilih Melly ketimbang diriku. Bisa kau bandingkan aku dengan Melly, benar-benar 180 derajat lebih baik dirinya.
Entah mengapa aku tidak merasa sakit, mungkin karena aku hanya baru akan menyukai Jordan, yaah katakanlah baru 10%an jadi tak menjadi masalah bagiku. Jadi katakanlah aku hampir suka dengan Jordan. Hari demi hari berlalu, begitu juga kisahku, sekarang sudah masuk 3 bulanan aku duduk di bangku SMA, setelah kemarin aku hampir menyukai Jordan, sekarang aku merasa mulai menyukai Bruch. Bruch juga merupakan teman sekelasku, pria yang lumayan tinggi, dan bisa dibilang ideal dengan bakatnya dalam permainan gitar yang memikat. Cukup gila memang, baru bulan lalu aku hampir menyukai Jordan, hanya dalam hitungan sebulan aku sama sekali tak teringat padanya malahan mulai menyukai orang lain. Move on? Aku tak beranggapan seperti itu karena menurutku aku belum menyukai Jordan, hanya nyaris lah. Lupakan sejenak tentang Jordan, sekarang akan kufokuskan ceritaku pada Bruch. Aku akrab dengan Bruch semenjak kita sama-sama mengikuti penyeleksian untuk anggota oragnisasi sekolahku. Di sana aku sering bercengkrama dan makin hari aku makin akrab dengannya. Seiring dengan semakin akrabnya aku dengan dirinya semakin besar pula rasa sukaku padanya.
Awalnya aku tak ingin membiarkan diriku untuk jatuh hati padanya, tapi lama-kelamaan kuabiarkan rasa itu tumbuh semakin dalam. Sampai akhirnya aku benar-benar menyukainya. Selama aku menyukainya tak pernah sekalipun aku bercerita pada teman-temanku. Aku hanya diam mengamatinya seperti saat aku melihat bintang. Yah mengangumi tanpa diketahui dan tanpa balasan. Sampai suatu hari, aku mulai menceritakan siapa orang yang sukai kepada temanku. Awalnya hanya bercerita pada satu orang saja. Dia sahabat dekatku, sebut saja Azzura. Aku selalu saling bercerita dan memberitahu rahasia satu sama lain, dan tak sekalipun salah satu dari kami membocorkan rahasia satu sama lain. Sehingga rahasiaku aman bersamanya. Seiring berjalannya waktu, aku semakin jatuh hati pada Bruch, hingga suatu hari aku mulai menceritakan rahasia pada beberapa temanku yang lain. Disinilah malapetaka dimulai.
Semenjak aku menceritakan tentang Bruch kepada temanku yang lain, semakin hari orang yang mengetahui tentang bahwa aku menyukai Bruch, termasuk Jordan. Yah Jordan orang yang awalnya nyaris aku sukai tapi malah berpaling dariku. Entah mengapa aku merasa Jordan seperti tidak suka jika aku jatuh hati pada Bruch. Membingungkan bukankah jelas-jelas dia lebih memilih Melly ketimbang diriku. Bahkan ia sudah menyatakan rasa sukanya terhadap Melly, akan tetapi sayangnya rasa sukanya terhadap Melly tak berbalas. Tiap kali aku dekat dan bersenda gurau dengan Bruch, Jordan selalu saja menggangu, tapi tak pernah sekalipun aku mengubrisnya.
Hari demi hari kulewati, dan perasaanku makin suka tak terkendali. Akan tetapi naasnya aku mulai mengetahui bahwa ternyata Bruch juga menyukai teman sekelasku yang lain yaitu Alice.  Tak tahu mengapa mengetahui hal itu rasanya sangat menyesakkan, rasanya seperti sesak tak karuan. Apakah ini yang namanya sakit hati. Hah, rasanya benar-benar sakit, seakan-akan rasanya air matapun ingin mengalir. Akan tetapi sesuai prinsipku, sampai kapanpun aku tak akan pernah menangis hanya karena seorang pria. Akan tetapi tetap saja rasanya begitu sakit tak tertahankan, baru pertama kali ini ku merasakannya tetapi langsung membuatku jera.
Ditambah lagi semakin hari semakin banyak orang yang mengetahui bahwasanya aku suka terhadap Bruch bahkan Bruch pun mengetahuinya. Akan tetapi bagai jatuh tertimpa tangga, miris sekali rasanya walau Bruch telah mengetahui bahwa aku suka padanya, tapi tiap harinya aku melihat ia semakin dekat dengan Alice.
Aku percaya bahwa ini tidaklah seperti yang kubayangkan, Tidaklah mungkin aku berkata “Aku mencintaimu”. Aku merasa kesepian mungkin itu yang kini kurasa. Aku mencoba menipu diriku sendiri namun sekarang aku tak dapat menyembunyikannya lagi. Aku pikir aku mencintaimu, mungkin seperti itu  karena aku merindukanmu jika tak ada dirimu aku tak dapat melakukan apapun. Aku terus menerus memikirkannya, memikirkan kedekatanmu denganya. Apapun itu saat aku melihat hal itu, Aku merasa semakin aku jatuh cinta padamu, Dahulu aku tak tahu namun saat ini aku membutuhkanmu, Tiba-tiba saat ini aku melihat wajahmu menempati bagian terbesardi dalam hatiku .
Makin hari diriku makin meratapi nasib yang ada. Kini kedekatan antara Bruch dan Alice menjadi pemandangan yang sudah biasa. Sakit memang, bahkan sangat sakit. Yang bisa kulakukan untuk menghibur hati kecil ku yang tak beruntung ini hanyalah dengan berkicau di akun twitterku, setidaknya inilah puisi yang kubuat untuk mewakili perasaanku. 
Setiap hari Setiap malam, tanpa hatiku tahu
Setiap hari Setiap malam, kenapa kau membuatku menangis?
Aku tidak tahu kenapa aku menjadi seperti ini 
Kenapa kau bodoh tidak menyadarinya
Aku seorang wanita juga, aku bilang aku mencintaimu untuk ratusan kali
itu begitu 
membuatku frustasi, hatiku terasa berat
Apa hal yang tepat untuk dilakukan?
Bagaimana jika ketika aku berkata aku mencintaimu, kau bilang kau benci padaku?
Haruskah aku bilang aku menyukaimu? Karena kau adalah satu-satunya
Haruskah aku mengatakan aku mencintaimu? 
gambaran ini begitu asing
karena ini pertama kalinya aku merasakannya
bertahan sendiri dan menahan
karena aku tahu betapa kesepian dan sulitnya aku
orang yang  ku cintai, lihatlah diriku
meskipun aku tidak memiliki keberanian untuk menghadapimu
Cintailah aku, berbaliklah dan tataplah aku
Tampaknya menjadi keserakahan bahwa aku ingin memilikimu
Aku mencoba untuk menyembunyikannya, tapi tetap saja tak berhasil
orang yang  ku cintai, lihatlah diriku
meskipun aku tidak memiliki keberanian untuk menghadapimu
Cintailah aku, berbaliklah dan tataplah aku
Tampaknya menjadi keserakahan bahwa aku ingin memelukmu
Aku mencoba untuk menyembunyikannya, tapi tetap seperti itu
Orang yang aku tunggu, itu adalah dirimu
Aku berusaha keras sendiri, tapi aku tahu itu mimpi
meskipun aku terlalu kurang untuk mencintaimu
Cintailah aku, putar kepala untuk melihat padaku
Aku takut bahwa aku akan menyesal jika aku tidak mengatakan itu
Aku ingin melihat hatimu sekarang
orang yang akan kucintai, lihatlah diriku

Miris, yah memang sangat malah. Sekarang hari-hariku hanya diwarnai dengan kesedihan, dan rasa sesak yang tak karuan. Dalam situasi seperti ini kepusinganku bertambah dengan seringnya teman ku berkata tentang Jordan, Jordan, dan Jordan. Mereka bilang Jordan menugguku lama, dan merasa sakit karna tahu aku suka dengan Bruch. Beh.. omong kosong, aku tidaklah bodoh, jelas-jelas dulu ia lebih memilih Melly, kenapa sekarang kembali padaku?emang aku pedopokan bisa ditinggal kemudian kembali sesukamu. Hal inilah yang selalu aku pikirkan tiap kali temanku cerita tentang Jordan. Hampir tak ada habisnya teman-temanku menceritakan tentang Jordan, padahal perasaanku masih tak karuan karna Bruch. Sampai akhirnya kuluapkan sudah apa yang kupikirkan tentang Jordan yang selama ini kupendam. Akan tetapi aku hanya bercerita rasa kesalku terhadap Jordan karena dulu lebih memilih Mellya akan tetapi sekarang kembali padaku, tak kuceritakan perihal bahwa dulu aku sempat nyaris menyukai Bruch.
            Setelah mendengar ceritaku, setiap harinya temanku menjelaskan dan menceritakan tentang Jordan, tapi aku tak terlalu mengubrisnya. Sekarang aku hanya fokus dengan bagaimana caraku untuk bisa berpaling dari Bruch, karena rasa sakitku tak tertahankan. Berapakalipun ku mencoba untuk berpaling dari Bruch, selalu saja gagal. Semakin lama rasa sakitpun semakin bertambah terlebih ku dengar Bruch akan menyatakan perasaannya terhadap Alice. Berita itu membuatku merasa tak karuan dan semakin frustasi untuk lebih gencar berpaling dari Bruch, karena ku tak ingin merasakan rasa sakit melihat Bruch dan Alice lebih dari sekedar teman.  Tiap harinya selalu kudapat informasi bahwa hari itu Bruch akan menyatakan perasaannya terhadap Alice, tapi tetap saja tidak jadi. Aku selalu menghindar dan mencari kesibukan tiap kali kudengar tentang kabar proses pernyataan perasaan Bruch pada Alice. Mengingat berapa kalipun ku mencoba tapi tetap saja nihil, lega memang karena sering kali rencana Bruch tak terlaksana. Tapi bagaimanapun aku tetap harus bisa melupakan Bruch karena pastilah hari eksekusi itu akan datang.  Akhirnya   hari yang tak kuinginkan pun datang juga, hari  dimana Bruch akan benar-benar menyatakan perasaannya kepada Alice.
            Bodohnya setelah kudengar kabar itu, akupun memutuskan untuk tidak masuk sekolah, syukurnya saat itu sedang class meet sehingga aku sedikit bebas untuk tidak masuk. Sujud syukur aku tidak melihat proses eksekusi itu, dan syukurnya setelah kejadian itu aku lebih mudah untuk berpaling dari Bruch dan semakin harinya rasa sukaku semakin berkurang. Semenjak rasa sukaku terhadap Bruch berkurang, aku mulai mendengar penjelasan tentang Jordan. “Jordan suka denganku” yah itulah inti dari apa yang selama ini teman-temanku kumandangkan. Hah, mana bisa akal sehatku menerima pernyataan itu, belum lagi mengingat ketika ia lebih memilih Melly, bikin aku makin geram.  
Sampai akhirnya terbukalah salah satu mulut temanku, ia menjelaskan perihal mengapa ia lebih memilih Melly, dan menjelaskan perihal lain yang setidaknya membuatku tak geram lagi pada Jordan. Sebenarnya selama ini aku tetap akrab dengan Jordan, tetapi ia terlihat seperti canggung. Baru setelah aku bilang bahwa aku sudah tak menyukai Bruch lagi, barulah ia terlihat enjoy. Semakin hari rasa sukaku terhadap Bruch pun berkurang sampai akhirnya aku benar-benar tak menyukainya lagi. Setelah ku dapat berpaling dari Bruch, perasaanku menjadi kosong. Di saat perasaanku sedang kosong entah mengapa salah seorang “artefakku” alias mantanku datang dan mengajakku tuk kembali bersamanya.

Sinopsis Breaking Dawn part 2

Jika Anda belum sempat membaca bukunya dan masih penasaran dengan lanjutan dari film bagian pertama, berikut adalah rangkuman dari buku yang diperkirakan nantinya akan menjadi jalan cerita Breaking Dawn Part 2.
Bella telah menjelma menjadi Vampir yang sangat cantik dan sangat kuat. Sebagai seorang vampir baru, Bella seharusnya sangat haus darah. Namun secara menakjubkan dia dengan cepat mampu mengontrol ‘insting barunya’ tersebut. Bella sempat mengamuk dan menyerang Jacob ketika tahu sahabatnya tersebut meng-imprint Renesmee, namun Edward dan Seth berhasil menenangkannya.
Bella sangat ingin bertemu dengan Charlie –ayahnya– namun merasa bingung menjelaskan kepada Charlie mengenai perubahan yang terjadi pada dirinya. Mengetahui hal itu, Jacob mengambil inisiatif untuk membuka rahasia ‘dunia lain’ yang melibatkan Bella. Dengan sengaja dia berubah menjai serigala di depan Charlie, Jacob juga menjelaskan bahwa Bella juga telah mengalami “perubahan yang tidak biasa” dengan menjadi Vampir. Dalam kunjungannya saat menjenguk Bella, Charlie terpesona melihat Renesmee –cucunya yang merupakan bayi setengah Vampir.
Renesmee tumbuh dengan pesat, dalam beberapa minggu dia telah bisa bicara dan mampu berjalan serta berburu. Saat Bella dan Jacob membawanya berburu, seorang Vampir dari klan Denali melihat Renesmee dan menganggapnya sebagai immortal child. Dengan kemampuannya, Alice ‘melihat’ Irina mengadukan keberadaan Renesmee kepada Volturi. Bagi Volturi, immortal child adalah kejahatan besar di kalangan Vampir. Alice menduga hal itu akan dijadikan alasan oleh Volturi untuk datang dan menghancurkan keluarga Cullen. Tak lama kemudian, Alice dan Jasper menghilang.
Keluarga Cullen memanggil keluarga Vampir lain untuk menjadi saksi bahwa Renesmee bukanlah immortal child, melainkan manusia setengah vampir. Mereka berharap hal ini dapat membuat Volturi mengerti dan membatalkan keputusannya untuk menyerang keluarga Cullen. Namun sebagai antisipasi jika Volturi tetap berkeras melakukan konfrontasi, mereka berlatih untuk menghadapi pasukan Volturi yang terdiri atas vampir-vampir tangguh. Saat berlatih itulah Bella menyadari bahwa dia bisa menggunakan kekuatannya sebagai tameng untuk melindungi teman-temannya yang lain.
Saat dua kubu telah saling berhadap-hadapan, Volturi akhirnya menyadari bahwa Irene telah memberikan informasi yang salah pada mereka mengenai Renesmee. Hal ini membuat Irina langsung dieksekusi saat itu juga. Namun keluarga Cullen belum bisa bernafas lega. Volturi masih belum memutuskan apakah keberadaan manusia setengah vampir bisa membahayakan kerahasiaan dunia vampir dari dari manusia atau tidak. Saat itulah muncul Alice dan Jasper membawa seorang manusia setengah vampir bernama Nahuel yang membuktikan bahwa keberadaan manusia setengah vampir tidak membahayakan dunia vampir.
Melihat bukti yang diberikan oleh Nahuel serta menyadari hebatnya kekuatan perisai yang Bella miliki, akhirnya Volturi memutuskan untuk pergi dan pertempuran besar pun akhirnya dapat dicegah.

Cerita Cinta PHP

 
Cerpen CInta PHP - Kebahagiaan yang terbalut kesedihan moga kalian suka dengan karya teman kalian yang satu ini

“OMAIGAAAATTT INI JALANAN KAPAN GAK MACETT SIIIIIHH?!” Gue teriak sambil jambak rambut gue sendiri di dalem mobil jazz biru gue, abis kesel banget udah jalan sepagi apapun juga masih telat juga telat juga.. Hadooohh!! Oiya, nama gue Thalika Sanidindya. Panggil aje Dindya... Gue sekolah di SMA Karunia Bangsa 3 kelas 12. Balik ke MACET. Letak sekolah yang kurang strategis membat macet dimana mana, ya gitu dehh.. Namanya juga demi sekolah. Iya gak? Okeh. Sekarang gua lagi di pertigaan lampu merah, ya kira kira 150 meter lagi deh sekolah gue, dan harus muter balik dulu juga. Saat melewat lampu merah gue udah bisa ngeliat lapangan sekolah.. OMG! Udah telat gue cuyy!!

                  Gue bunyiin klakson gue kenceng-kenceng, TINN TINNN!!!!! Akhirnya gue udah nyampe tempat muter balik dan langsung deh gue parkir mobil gue. Di pintu gerbang................. “Ma.. Maap Pak Saya terlambat..” Ucap gue dengan tampang melas plus kucel ama Pak Sutomo. Pak Sutomo hanya terdiam dan menatap gue tajam. Ternyata hari ini yang jadi guru piket.............................................. Pak Sutomo. Siapa sih sama yang gak tau Pak Sutomo?! Pak Sutomo yang mengajar Physics, terkenal tegas, menyeramkan, juga menakutkan....................................... Oke, gue tulis nama gue di buku pelanggaran untuk ke 10 kalinya. Sedih banget yakk.. “Kamu! Jangan ikut pelajaran saya selama 5 jam pelajaran!! Ingat itu! Dan sekarang! Naik keatas dan turun ke bawah selama 10 kali! Dan jika besok kamu terlambat lagii?! Hukuman yang lebih berat telah menunggu!!Mengerti Dindya??!!”

                OMG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Seperti sekolah yang kebanyakan, sekolah ini mempunyai 4 lantai.. “Iya Pak.” Kata gue lirih.......Oke sip. Gue mau menjalani hukuman dulu yeee........... Huuffttt


***
                Hhhhhh... Akhirnya selese juga nih hukuman gue. Langsung aje gue tancep gas ke kantin.. Laper bung!! Sangking lapernya gueee! Lari-lari ke kantin dan.................................. Gubrakk!!!!!!!!!!!!! “AWWWWW!!!!!!!!” Upss! Gue nabrak................. Cowok?

                Seorang cowok yang tinggi standar pemain NBA berkulit putih dengan rambut cepak dan........... KECENYA GAK NAHAAAAAANNN!! Gue terpana dengan pandangan pertama XD Akhirnya gue bantuin tuh cowok, kayaknya dia anak baru dehh..

                “Eh, maap yak gue gak hati-hati, makanan lo jadi jatoh deh..” Ucap gue sambil bantuin tuh cowok bangun *enggak lupa senyum semaniss manissnya. “Iya gapapa.” Katanya singkat seraya tersenyum tipis bikin jantung gue mau meledak !!! Gue langsung ngajak dia gantiin makanannya yang jatoh itu.

               Dan akhirya kita (?) makan berdua di taman sekolah. “Eh kayaknya lo anak baru ya?” Kata gue membuka percakapan. ‘Iya.. Gue anak kelas XII-B ngambil Ipa.” Katanya sambil menyeruput  mie nya.”Eh sama kayak gue!” Kata gue kesenengan (-_-“). “Ohya? Kok tadi gue gak ngeliat elo ya?” Tanyanya polos.”Tadi gue telat jadi dihukum dulu...” Kata gue apa adanya.. Lagian ngapain boong?
                “Eh nama gue Avri.. Lo?” Katanya sambil mengulurkan tangannya. “Gue Dindya..” Kata gue sambil menambut tangannya. Gak sadar, gue enggan melepaskan tangan gue dari tangan dia. Gue pun ngeliatin diaaaa terus. Sampe akhirnya... “Eh Dindya lo gapapa kan?” Tanya dia lugu. “Ohhh iya kok gapapa” Gue segera melepaskan tangan gue dan......... KRIIIIIIINNGG!!! THE BREAK TIME IS END. PLEASE  BACK TO YOUR CLASSROOM!

             Setelah mendengar bel itu kita berdua langsung beranjak dari taman. Baru aja mau naik tangga.. “Eciyee Dindya  pacar baruuuuu” Ita dan Sari nongol, tapi raut wajah Ita menampakkan kesinis-an. “Apaan sih ah ngaco luu” Gue langsung merangkul mereka berdua dan meninggalkan Avri. “Eh Vri gue duluan yee” Teriak gue dari atas. Sementara itu ternyata Avri udah menghilang dari bawah..............................

                                                                  ***
               Bel sekolah sudah berbunyi... “Eh hang out yuk kemana kekkk” Kata Ita sambil memeluk lengan gue saat melewati pintu kelas. “Aaaaaaahh malesssss” Kata gue singkat. Emang lagi males keluar kok!!”Ayokk bareng guee!” Kata Santi semangat dan tiba tiba jbjb aja ituu -_- Baruu aja gue mau langsung masuk mobil dan tancap gas pulang, Ehh! Tiba-tiba.............. “Ayoo naek mobil gue aja Ta, Sar, Din!!!” Si Avri nongol dan mencegat jalan “Astagaaaa Avri lu ngagetin taukkk” Teriak gue sebel, tapi hati gue tersenyum. “Ahahahaha maap dehh,, gimana? Ta? Sar? Dindyaa??” Tanya Avri H2C. “Hhh... Yaudah dehhh bentar gue mau nelpon kaka gue dulu sekalian titip kunci ke satpam..” Gue pasrah sementara itu Ita dan Santi teriak kegirangan.


              Ternyata si Avri ngajak temen cowoknya yaitu Arya. akhirnya kami ber 5 pun muter muter salah satu mall di Cibubur sampe sore menjelang malem gitu................ Setelah semuanya pulang dianterin Avri tinggal gue ama Avri aja yang tersisa (?) dan Avri pun nganterin gue pulang. Setelah nyampe di depan rumah dan gue buka pintu mobil “TFT ya Avriii” Kata gue sambil hendak menutup pintu mobil. “Sama sama sayangg...” Kata Avri lembut dan gue pun bingung sambil menutup pintu mobil dengan sedikit hentakan. Sayang? Maksud lo apa Vri? Batin gue bingung.Ah!! jangan jangan dia juga suka aa gue lagi awaw beruntung banget gue dapet durian runtuh!!! Sejak itu gue pun berfikiran kalo si Avri suka ama gue dan gue suka ama diaaaa!!

                                                                      ***
                     
                 Hari selasa ini gue gak mau telat dan berniat ngenyemangatin Arvi yang latian paskib buat minggu depan pagi ini. Gue bangun jam 4 dan segera bersiap-siap.. 1 jam berlalu dan gue pun pamit sama Ortu. “Eh kok udah mau berangkat? Gak ke pagian Din??” Kata mak gue setengah sadar. “Gapapa mak berangkat dulu ya makk Assalamualaikummm” Gue nyium tangan mak gue dan tancap gas.
                 1 jam berlalu dan gue udah sampe di sekolah. Aaaaahh!! Itu dia si Avri!!! Yak ampyunn dia makin kece ajahh XD gue pun teriak teriak di pinggir lapangan. ”Avriiiiiiiiiiiiiiiiii semangat yahhh!!” Kata gue teriak sambil melambaikan tangan gue kesenengan. Avri hanya tersenyum manis dan itu sanggup bikin paru-paru gue keluar lewat idung (?). Tapi........... setelah gue perhatikan, ternyata senyuman itu bukan ditujukan buat gue tetapi....................................... Buat Ita yang sedari tadi melambaikan tangan ke Avri di belakang gue.. Tapi gue gak begitu mikirin soalnya Avri aja udah pernah bilang sayang ke guee ;P


                      Istirahat.. Avri ngajak gue ke kantin, namun tanpa disangka Ita jbjb dan ngerangkul Avri, sedangkan gue malah ditinggalin mereka berdua. Ahh bodo ah nanti pdkt ama Av ri nya di bbm ajahh :P

                                                                  ***
                    Pulang sekolah..Setelah gue dapetin pin-nya Arvi, gue langsung Invite dan tentunya langsung Avri accept dong =D “Hai Avri! Lagi apaa? ;;)” Tanya gue dan langsung dia bales “Eh adek Dindya... Lagi bbm an aja neehh :D” Pertamanya gue kaget dipanggil adek, tapi karena gue pikir itu panggilan sayang khusus buat gue, gue pun manggil dia kakak, hari itu rasanya seneeeeeeeeng buangetttt!!! Dan bbm pun berlanjut sampe sore......
                 
                                                                ***
                    
                     Hari-hari gue pun berlalu dengan Avri menjadi pelengkapnya........ Sampe libur smester tiba gue pun iseng nanya ama Avri “Av! Lo ada adek gak sih?” tanya gue dan dia bilang gak ada dengan titik yang puuuuanjaaaang banget dibelakangnya, sebenernya gue bingung artinya apa, tapi forget it. “Gue boleh gak maen ke ruma elo??” Tanya gue lagi. “Bolehhhhh ayok kapan? Mau sekarang???” Tanya dia antusias yang bikin gue senengg gak karuan.”Okehh gue bagi alamat rumah lo dong!!!!!” Gue memutuskan pergi sendiri dan setelah gue dapetin alamatnya tanpa buang buang waktu gue langsung cabut.


                     Rumah Avri yang berada di jalan raya gak sulit gue dapetin. Setelah yakin rumah gedeee dengan cat putih yang ada di depan gue itu rumah Avri gue pun langsung mencet bel 2 kali yang disambut dengan Avrinya langsung, “Ehh adek gue dateng..” Katanya sambil bukain gerbang buat gue. “Ehehehe” Gue cuma ketawa sambil markir mobil gue bersebelahan dengan mobil Avri. “Ayuk maasuk” Katanya sambil mempersilahkan gue masuk.. Wooww rumahnya keren bangett! Dengan desain minimalis modern yang lagi nge-trend, rumah ini elegan deh keliatannyaa!! Gue Cuma bisa bengong sambil duduk di kursi ruang tamu. “Eh lo duduk di  sana aja dehhh...” kata Avri sambil menunjuk kamar di ujung yang pintunya terbuka. “Okehh..” Gue pun beranjak dan duduk di kamar tersebut, kamarnya pink dengan banyak accesoris pink di sekelilingnya.. Sama dehh kayak gue marna favoritnya ping :D. “Gue bikin minum dulu yeee” Kata Avri sambil menutup pintu..


                 Gue liat-liat sekeliling dan.................. sebuah frame kecil bergambar foto. Foto yang miriippp banget ama gue.... tapi sebuah tahi lalat di hidungnya membuat dia sedikitt beda dari gue, gue perhatiinnn terus tuh foto sampe akhirnya... Gue pun terhenyak, menyadari Avri dengan tampang sedih udah di belakang gue.. “Dia adek gue yang meninggal beberapa bulan yang lalu Din..” Lata Avri seraya mengambil frame foto itu dari tangan gue.......... “Adek? Oh.. Maaf Av gue gak bermaksud.” Kata gue sambil mengusap pipi Avri yang udah basah karena air mata. Avri pun memegang tangan gue dan ituu membuat gue dag dig dug gak karuan.. “Dindyaa....” Kata Avri sambil meemeluk gue.. “Avri kenaapaa??” Gue iseng nanya ._. “Elo emang yang paling gue sayang deeehh....” Katanya sambil mengusap rambut gue, bikin gue tersenyum kecil dan geer parrahh.. Berharap dia nembak gue >.<


                        “Adek tersayang gueee.. Selamanyaa” JLEBBB.. Adek tersayang?? Jadi........... Selama ini........................... Gue Cuma dianggap............. ADEK?? “Maksud lo Av?” Gue bingung, “Lo itu emang pantas jadi pengganti adek gue yang hilang... Sifat lo itu emang udah copy banget dari adek gue..  Gue udah punya adek lagi sekarang!!! Dan itu eloo.. Jangan hilang lagi yaa dari kehidupan guee.” Katanya sambil memeluk gue erat lagi... Tiba-tiba.. Pintu terbuka keras dan Ita muuncull “Ohhh ada adek kamu sayang? Yaudah hari ini jadi kan? Aku tunggu di luar yaaa” Ita menatap gue sinis, menutup pintu, dan keluar.........
                       Gue terisak di dada Avri................... Kesedihan namun juga kebahagiaan tersendiri buat gue udah jadi ade Avri................ Avri sudah sukses membuat luka lebar di hati gue, dan gak bisa hilang sampai..... Sekarang .............................
                                                              
                                                           -The End-

Cerpen Cinta dan Persahabatan : SEBERKAS LUKA MASA LALU

(Di ilhami dari kisah nyata cerita seorang sahabat ) 

*****
Ini adalah kisah tentang seseorang yang meninggalkan dan yang di tinggalkan ,
Yach , kisah yang mungkin tak biasa di ungkapkan dengan kata-kata , hemm
Rhisa masih asyik dengan buku diary nya , sambil melihat-lihat keindahan bintang di balik jendela kamarnya , entah kenapa ia tiba- tiba saja teringat peristiwa , 13 tahun silam , yang ,masih menyisakan luka hati yang paling dalam ,

Dulu , saat Rhisa masih SD , Rhisa punya teman , yach bisa di bilang sahabat lah , namanya Dhina .Hubungan mereka cukup dekat , bisa di bilang seperti saudara, berhubung umur Dhina lebih muda dari Rhisa , jadi  Dhina sudah Rhisa anggap seperti saudara sendiri ,

Segala susah dan senang mereka berbagi bersama , begitu juga dengan orang tua Rhisa yang sudah menganggap nya seperti anak sendiri , terutama ayah nya Rhisa. Ayah Rhisa begitu sangat menyayangi Dhina seperti beliau menyayangi anak nya Rhisa .

Tapi semua itu hanya sesaat , semua berubah menjadi perih yang sampai saat ini masih Rhisa rasakan , semua berawal saat ayah Rhisa sakit keras , saat itu Rhisa sedih sekali   , Rhisa butuh kehadiran Dhina di sisi nya , yach sekedar memberi semangat atau menghibur seperti apa yang Rhisa lakukan saat Dhina di marah ibunya . Dhina adalah satu-satunya orang yang Rhisa harapkan saat itu , tapi .sekalipun Dhina tidak pernah datang menemui Rhisa, apalagi untuk sekedar menjenguk ayah Rhisa , entah apa masalahnya sehingga ia begitu tega dengan Rhisa.

Hingga Ayah nya Rhisa mengehembuskan nafas terakhir , Dhina pun tidak muncul di hadapan Rhisa saat itu, Rhisa hanya menahan perih dan sedih sendirian, .

Seteleh tujuh hari pasca meninggalnya ayah nya , Rhisa pun mulai masuk sekolah ,meski hati masih di rundung duka , ia berharap dapat menemui  Dhina , hari ini dan meminta alas an tas perubahan sikap Dhina yang belakangan ini berubah drastis.  , tapi apa yang Rhisa dapat , sepatah kata pun Dhina tidak menyapa Rhisa ,walaupun sekedar untuk menanyakan kabar Rhisa , sehingga mau tidak mau Rhisa  pun nekat  untuk kerumah nya  minta penjelasan dari  Dhina TERLAMBAT ! ternyata Dhina sudah pindah rumah ,Rhisa juga tidak tahu dia pindah di mana sekarang , yang ada di benak Rhisa sekarang adalah sebenarnya apa yang terjadi , dan ini tidak adil rasanya buat Rhisa. Dhina sahabat Rhisa telah pergi .
 
Seiring berjalan nya waktu dan setelah sekian lama , tiba- tiba saja Rhisa  tidak sengaja bertemu dengannya di jalan,Dhina bersama dengan orang lain saat itu ,Rhisa pun mengejar nya sambil memanggil- manggil namanya , Dhina sempat menoleh kearah Rhisa , dan setelah itu ia pergi berlalu meninggalkan Rhisa. Rhisa pun lagi –lagi kehilangan jejak , Dhina sahabat nya itu , ia pun menangis , tiba- tiba muncul kebencian yang sangat luar biasa dalam dirinya. Dan ia pun berjanji pada diri nya sendiri ,
Mulai saat itu , Rhisa akan berhenti untuk mencari Dhina dan berhenti untuk meminta penjelasan lagi , habis sudah kesabaran Rhisa , yang ada hanya sebuah luka yang mendalam,. Pengalaman yang begitu menyakitkan membuat Rhisa tidak percaya lagi apa yang nama nya ‘SAHABAT “

.

Tanpa terasa air mata Rhisa  mengalir menetes membasahi buku diary nya, Rhisa pun cepat” mengusap air ,matany itu dan berlalu , hingga ia terlelap bersama mimpi –mimpi hingga mentari menyambut nya esok pagi . (Di adopsi dari cerita sahabat , sebuah kisah nya ).

Perpisahan

 
PERPISAHAN

Setelah lulus UN aku, vine dan karlina janji mau bermain kesawah dimana dekat dengan rumah karlina,
kami ingin foto-foto bersama,
kenalkan vine sahabatku yang ga modal sama kaya karlina ga modal juga hhahaa,
itu dia yang gw suka dari mereka berdua unik dan aneh.

***
tiba–tiba hape berdering dan kuangkat dan ternyata vine menelpon menanyakan jadi atau tidak nya gw kerumah karlina
“ri jadi gak”ajaknya dengan nada heran
“jadi donnk”jawab ku
“ya sudah lu tunggu disana ya”dia menyuruh dan ga ngasih tau dimana tempatnya(aneh ga?)
“ok” ok-ok aj padahal ga tau paling tempat biasa
 sesampai tempat kita bertemu gw tunggu sebentar dia sekitar 5 menit dan akhirnya dia datang
“ri sorry ya nunggu”dengan muka aneh nya ahhaha
“ga papa”jawabku dengan polos
“yuk lah ntar kesiangan”dengan masih muka aneh

***
sesaat sampai dirumah karlina gw dengan vine langsung disuruh masuk disana sudah ada makanan yang sangat Lezat,hmm Yami-yami ^_^ ,asik nih.
“tumben lu modal kar ga biasanya mau gratisan hahahha”ledek ku
“hahahaha”vine ikut tertawa
“jangan ketawa vi sama aja lu”ledeku kedia
“ia nih lagi mau modal aj hahaha” karlina  membanggakan kemodalan nya

***
saat kita makan kita sekalian bercanda tawa,
ini lah yang membuat gw hangat didekat mereka berdua,
sahabat memang selalu membuat kita tenang dalam keramaian atau kesepian.
setelah Makan selsaikami langsung berangkat kesawah.

Semoga bermanfaat Cerpen Persahabatan diatas dan baca juga Koleksi Cerpen Persahabatan yang lainnya semoga menjadi tolak ukur dalam persahabatan anda dengan seseorang.

My Ship Friend


Senja yang dulu indah kini menjadi temaram dan bulan yang dulu purnama kini perlahan berubah menjadi sabit. Seperti keadaan hati seorang gadis remaja yang meratapi kekosongan dan kehampaan hatinya karena ditinggal oleh sahabat yang selama ini setia menemaninya baik syka maupun duka. Dulu, waktu usiaku beranjak 17 tahun, aku mempunyai beberapa sahabat salah satunya Icha. Icha tinggal di Ciracas, JakartaTimur. Dia anak pertama dari 2 bersaudara, dia adalah seorang remaja yang lugu dan sangat ceria. Kami bersahabat suddah cukup lama, aku kenal Icha waktu kami sama-sama mendaftar di salah satu SMP favorit di Jakarta. Setelah awal oerkenalan itu,pertemanan kami berlanjut karena kami diterima di SMP itu. Kami selalu bersama-sama bagai amplop dan perangko yang tak dapat terpisahkan, itulah kami. Kami juga selalu satu kelas.

Setelah lulus SMP aku dan Icha memutuskan untuk satu sekolah, hari pertama aku dan Icha menjalani ospek, rasanya takut dan tegang banget, tapi aku melihat seorang cowok yang sangat perfeck di kantin sekolah, dia sangat manis apalagi pada saat aku melihatnya sedang tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya, manis sekali senyumnya, disaat aku sedang asyik memperhatikan cowok itu tanpa ku sadari didepanku ada salah seorang kakak senior yang sangat galak, upzzz…. Aku menabrak dia, dia marah-marah padaku meski aku telah minta maaf padanya, lupakan saja dia kita kembali pada cowok yang aku lihat tadi, tapi aku mencari-cari kesekeliling kantin tapi cowok itu udah gak ada. Icha hanya tertawa melihat tingkah lakuku. Huh… ini semua gara-gara keteledoranku, tapi gak apa-apa suatu hari nanti pasti aku dapat bertemu dengannya kembaali karena aku yakin dia siswa di SMA ini. Aku dan Icha melanjutkan perjalanan kami ke kelas. Ospek pertama telah dimulai, ada beberapa kakak senior masuk kekelas tanpa ku sadari cowok yang ku lihat di kantin sekolah tadi pagi ada didepan mataku. Aku senang sekali karena aku kembali beetemu dengannya walau dia tak ku kenal sama sekali.
Aku mencari tau siapa sebenarnya cowok itu, dari beberapa orang yang aku tanya mereka mengatakan dia adalah ketua osis, namanya radit, Cuma itu informasi aku dapatkan tentang dia, tapi udah cukup kok. Singkat cerita aku dan kak Radit mnjedi tambah akrab tapi cuma sebatas teman. Yang tak pernah aku duga ternyata kak Radit naksir sama Icha, aku sedih banget karena dia adalah cinta pertamaku, tapi apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa, dan aku juga sempat kecewa pada Icha karena dia menerima kak Radit menjadi kekasihnya, Icha kan tau kalau aku suka sama kak Radit tapi kenapa dia tega padaku. Mungkin inilah nasibku, setelah kejadian itu persahabatan aku dan Icha menjadi renggang, aku jarang menyapanya dan sepertinya juga dia sekarang jarang ada waktu buat kita berdua sanma-sama lagi seperti dulu. Lagi pula aku tak sekelas dengannya.

Waktu terus berputar, tanpa terasa tahunpun berganti. Akhir-akhir ini aku melihat Icha tampak murung dan gak seperti biasanya yang sangat ceria. Walau aku belum bisa memaafkan Icha tapi walau bagaimanapun dia adalah sahabatku dan aku harus tau apa yang sedang terjadi. Satauku dari berita yang beredar kalau Icha mengidap penyakit tumor yang bersarang diperutnya sejak beberapa tahun ini, sejak dokter memfonis penyakit itu Icha berubah menjadi nak yang pemurung danpendiam. Aku sangat merasakan perubahan itu, tapi setiap kali aku tanya dia tak pernah mau cerita dan jujur padaku. Menurutku dia berubah menjadi seperti itu karena mungkin dia merasa hidupnya tak akan lama lagi. Seiring berjalannya waktu perut Icha makin membesar, aku belum percaya dengan apa yang temen-temen bilang padaku. Aku desak Icha untuk menceritakan apa yang terjadi padanya, akhirnya Icha mau bercerita. Aku sempat terkejut mendangarnya sekaligus sedih bercampur dengan rasa kekecewaan, mengapa baru seekarang dia cerita semua itu padaku. Tapi mungkin karena aku tak sedekat dulu sama dia. Aku juga denger-denger dari yang laen Icha putus, Icha diputuskan kak Radit karena keadaan Icha dg perut yang makin membesar. Aku sedih sekali, tapi dia pernah menghianati persahabatan yang telah lama kami bangun.

Icha masih tetap sekolah, tapi lama kelamaan dia merasa kecil hati dan malu. Dengan kondisi tubuh yang semakin menurun, sampai akhirnya Icha dirawat di Rumah sakit Haji Pondok Gede. Aku dan teman-taman menjenguknya untuk memberikan semangat dan dukungan padanya agar Icha gak semakin drop dan putus asa. Hanya sampai disitu saja kabar yang aku dengar tentang Icha, disatu sisi aku masih kecewa padanya tapi disisi lain aku juga mempersiapkan UN.
 
Pagi hari yang sangat gelap karena hujan turun begitu derasnya, aku sedang duduk melamun memikirkan bagaimana keadaan Icha sekarang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan ringtone handphoneku yang berbunyi dank u lihat dilayar hpku ternyata mamanya Icha memanggil, fikirku tumben tapi ada apa ya, kok pagi-pagi gini tante telfon aku. “halo assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Cika?”, nada suara mama Icha tampak berat, sepertinya dia sedang menangis. “ii…aaa tante, ada apa kokpagi-pagi begini telfon Cika? Trus bagaimana kabar Icha tante?” tanyaku agak ragu, “Icha telah berpulang Ka” belum sempat aku mengucapkan turut berduka cita pada tante, tut…tut…tut…tut telfon tiba-tiba terputus. Aku menangis dan menyesali dengan semua yang terjadi, dihatiku tersirat penyesalan yang amat mendalam, aku terlalu jahat dan egois pada Icha dan gak pernah meluangkan waktu untuk menjenguk sahabatku sendiri yang menjalani hari-hari akhirnya sendirian, tanpa aku. “Maafkan sahabatmu ini Ca…..hik..hik..hik…!!!” tangisku
Aku datang ke rumah Icha untuk melihat dia terakhir kalinya dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Icha. Setibaku disana aku melihat Icha terbaring kaku, dikelilingi orang-orang yang membaca yasin untuknya, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. “Icha…..” panggilku, “sudahlah Ka, relakanlah kepergian Icha, agar dia tenang di Alam sana” mama Icha ada disampingku, dan memberikan selembar kertas padaku, “ini dari Icha buat kamu, dia menulis pada saat kamu jarang menemuinya, tante tinggal dulu kebawah”. “makasih tante dan Cika minta maaf kalo selama ini Cika gak pernah menjenguk dia, Cika lagi UN tante,” aku menangis. “gak apa-apa kok tante ngerti, kamu ada masalah ya sama Icha?” tanya mama Icha, “eng…enggak kok tante, kami berdua baik-baik saja””ya udah jangan nangis lagi, tante ke bawah bdulu ya” tante pun meninggalkanku sendiri di kamar Icha karena Perlahan-lahan tadi aku pingsan, aku melihat foto-foto yang ada dimeja samping tempat tidur, betapa lembutnya senyum Icha di foto itu. aku buka kertas ituperlahan-lahan, dan aku pun mulai membaca kata demi kata disurat itu.
Sebelumnya gue minta maaf atas kejadian kemaren”, bukan maksud gue untuk merebut kak Radit dari lo, tapi gue juga cinta dia dan gue juga udah putus ma dia, karena dia bukan laki-laki yang baik. O ya, lo tau kan kalo gue gak bisa buat puisi kayak lo, tapi ini puisi gue buat khusus sahabat sejati gue ini, maaf ya kalo buatan gue gak sebagus puisi-puisi lo, heheheh……..

Akhir Cerita Persahabatan Doraemon dan Nobita

 
Fujiko F. Fujio pengarang komik cerita ini memang sudah meninggal. Konon katanya, beliau belum sempat menyelesaikan kisah persahabatan anak manusia dan kucing robot ini sampai ajal menjemputnya. Konon katanya pula, beliau ternyata meninggalkan sepucuk kisah yang menceritakan akhir dari cerita doraemon. Mungkin statement seperti ini sudah banyak ditemukan dalam kaskus atau artikel lainnya di berbagai media online. Namun, saya sangat ingin memaparkan dan mengabadikannya dalam akun kompasiana saya.

Banyak sekali versi tentang ending cerita doraemon. Ada yang simpel banget, ada yang mengharukan banget, ada yang keren banget dan gak nyangka!
Sebelum saya menulis ini, saya belum refresh lagi tentang bagaimana cerita asli yang telah beredar di telinga orang-orang. Saya akan mengungkapkannya kembali dengan seingat saya, versi saya tanpa ada yang dikurang atau ditambah.

  1. Hari itu sepulang sekolah, Nobita mendapati Doraemon terkulai lemah di dalam kamar. Nobita  membangunkan Doraemon berkali-kali, tidak ada jawaban. Awalnya dia berpikir bahwa doraemon sedang tertidur sangat pulas. Setelah cukup lama dibiarkan, Doraemon tetap tidak berkutik. Nobita mulai panik dan memanggil adiknya doraemon yaitu dorami. Dorami mengecheck keadaan kakaknya, dan dia mendiagnosa bahwa kakaknya mengalami kerusakan dan sangat sulit diperbaiki. Nobita menangis sejadi-jadinya dan menganggap ini hanya lelucon namun dorami memastikan bahwa ini benar terjadi. Doraemon tidak akan hidup lagi. Tidak akan berfungsi lagi. Mulai dari saat itu nobita bertekad belajar yang rajin, tidak malas lagi, dan menjadi anak yang pintar. Dia ingin menjadi professor yang sangat cerdas dan cita-citanya hanya satu, yaitu memperbaiki sahabatnya yang sangat baik, doraemon. Jadilah nobita menjadi sangat pintar melebihi dekisuki bahkan. Menjadi anak yang memliki nilai tertinggi saat Ujian Nasional dan dia benar-benar menjadi professor terkenal di Jepang. Nobita menikah dengan shizuka dan hidup bahagia. Namun kebahagian nobita belumlah lengkap. Suatu hari, dia mengajak shizuka ke ruang kerja bawah tanahnya. Shizuka terpaku ketika melihat sesosok Doraemon, sosok yang sudah sangat lama tak dijumpainya terbujur di sana. Nobita berusaha memperbaiki doraemon dengan segala pengetahuan yang ia punya. Akhirnya, Nobita berhasil! Doraemon terbangun, dan…..“Nobita… Kamu sudah mengerjakan PR-mu belum?”Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Doraemon. Mereka berpelukan haru. 
  2. Di masa depan, Nobita ternyata adalah professor terkenal yang sangat ahli. Dia pulalah yang ternyata menciptakan doraemon untuk menjadi teman masa kecilnya yang kelam 
  3. Noobita selama ini hanya bermimpi tentang Doraemon. Doraemon tidak pernah ada.
Sekian, beberapa versi tentang akhir cerita Persahabatan Doraemon dan Nobita. Konon pula, versi-versi tersebut hanyalah kalangan para fans Doraemon dan tidak ada yang terbukti benar adanya. Berhubung Fujiko sudah tiada. Btw, versi lainnya dapat dibaca di http://id.wikipedia.org/wiki/Doraemon#Akhir_cerita . Check It Out! Pada intinya, bagaimanapun akhir kisah Doraemon dan Nobita membuat saya terenyuh. Kalau bisa, saya buat, Doraemon dan Nobita bersama selamanya saja sampai akhir hayat. Happy ending deh. Gimana? Hehehe

Kuku, Gigi seorang Perempuan

“Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan (sayangnya) rentan, sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.” Perumpamaan di atas terilhami melalui sebuah dialog dalam adegan film “Bulan Tertusuk Ilalang” karya Garin Nugroho.

Betapa menakjubkan. Dan kalimat itu mengingatkan saya pada kenangan tentang sahabat saya dan mamanya ketika masa-masa SMP-SMU dulu. Kala itu, nyaris setiap hari saya main ke rumahnya yang jauh di selatan kota. Saya tahu dia anak orang kaya. Papanya, pimpinan sebuah instansi pemerintah terkemuka di kota saya dan mamanya adalah ibu rumah tangga biasa. Saya tak heran mendapati barang-barang bagus dan bermerk di rumahnya yang masih dalam tahap renovasi.

Sofa yang empuk, televisi yang besar. Saya hanya bisa berdecak kagum sekaligus iri. Tapi, lama-lama saya menyadari bahwa isi rumah itu makin kosong dari hari ke hari. Perabotan yang satu per satu lenyap dan televisi yang ‘mengkerut’ dari 29 inchi ke 14 inchi. Perubahan paling mencolok adalah wajah mama sahabat saya. Suatu saat ketika ia berbicara, tak sengaja saya dapati suatu kenyataan bahwa mama sahabat saya itu kini ompong! Kira-kira 2-3 gigi depannya hilang entah kemana.

Saya tak berani -lebih tepatnya tak tega - untuk bertanya. Saya juga tak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan sendiri. Yang jelas, sebuah suara, jauh di lubuk hati saya bergema : “Sesuatu yang buruk telah terjadi di rumah itu!” Benarlah, tanpa diminta akhirnya sahabat saya datang berkunjung ke rumah saya. Setengah berbisik, ia bercerita bahwa papanya selingkuh dengan perempuan lain dan karenanya, nyaris tak pernah pulang ke rumah. Dan ini bukan main-main, perempuan itu hamil dan menuntut pertanggung jawaban papanya. Dengan emosi ia bercerita bahwa papanya mengajaknya ke rumah perempuan itu dan meminta sahabat saya untuk memanggilnya dengan sebutan “Mama”.

Sebuah permintaan menyakitkan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh sahabat saya. “Mamaku cuma satu” tangkisnya tegar saat itu. Dan misteri tentang gigi mamanya yang tiba-tiba ompong, barang-barang mewah dan perabot yang satu per satu menghilang dari rumahnya pun terkuak sudah. Semuanya adalah akibat ulah papanya jua.

Dan setengah frustasi ia mengadu pada saya bahwa ia harus menanggung semua beban berat itu sendirian karena kakak satu-satunya yang kuliah di luar kota tak peduli dan tak mau memikirkan masalah itu. Mamanya pun -yang lemah lembut- tak bisa berbuat banyak dengan kelakuan suaminya. Ia cuma bisa pasrah, gigi yang ompong itu buktinya. Dan saya? Hanya doa dan motivasi yang bisa saya berikan agar sahabat saya itu tabah dan tak putus berdoa.

Toh sekarang, setelah lama peristiwa itu berlalu, doa sahabat saya pun dijawab oleh Tuhan. Ketika itu menjelang kelulusan SMU, ia bercerita pada saya bahwa papanya sudah ’sembuh’, bertobat, dan kembali ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Nasib the other women itu entah bagaimana. Sampai di sini persoalan beres. Dan saya takjub mendengarnya, senang sekaligus heran. Bagaimana mungkin masalah pelik ini bisa selesai semudah itu? Nurani keadilan saya berontak.

Saya tak habis pikir, betapa mudahnya mama sahabat saya itu memaafkan dan menerima kembali suaminya setelah semua yang dilakukannya. Lelaki itu tak cuma berkhianat, tapi juga menyakiti fisiknya, merontokkan gigi-gigi depannya, tak menafkahi anak-anaknya dan nyaris mengosongkan isi rumahnya. Dan ia memaafkannya begitu saja.

Sebuah kenyataan yang ternyata banyak juga saya temui di masyarakat kita. Perselingkuhan dankekerasan dalam rumah tangga yang bisa diselesaikan dengan mudah, hanya dengan kata maaf. Mungkin inilah yang disebut orang sebagai “CINTA”! Papa sahabat saya adalah laki-laki dengan cinta sebesar gunung, dan ketika ia meletus, laharnya meluap kemana-mana, menghanguskan apa saja, meluka fisik dan terutama hati dan jiwa istri dan anak-anaknya. Mama sahabat saya adalah perempuan dengan cinta sebesar kuku.

Memang cuma seujung jari, tapi cinta itu terus tumbuh, tak peduli jika kuku itu dipotong, bahkan jika jari itu cantengan dan sang kuku terpaksa harus dicabut, meski sakitnya tak terkira, kuku itu akan tetap tumbuh dan tumbuh lagi.

Sebuah cinta yang mengagumkan dari seorang perempuan yang saya yakin tak cuma dimiliki oleh mama sahabat saya itu. Cinta yang terwujud dalam sebuah tindakan agung : “Memaafkan”.

Sebuah tindakan yang butuh kekuatan besar, butuh energi banyak, yang anehnya banyak dimiliki oleh makhluk (yang katanya) lemah bernama perempuan.

Akan Datang Penghuni Surga

 
 Di suatu hari Nabi sedang duduk di Masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba Nabi berseru, "akan datang penghuni surga."

Serentak para sahabat memandang ke arah pintu.

Ternyata datanglah seorang sahabat yang memberi salam pada mejelis Nabi lalu shalat.

Keesokan harinya lagi, pada sitausi yang sama, Rasul berseru,

"Akan datang penghuni surga." Tiba-tiba hadir dari arah pintu sahabat yang kemaren juga digelari Rasul penghuni surga.

Selepas bubarnya mejelis Nabi, seorang sahabat mengejar "penghuni surga" tersebut. Ia berkata, "maafkan saya wahai saudaraku. Aku bertengkar dengan keluargaku bolehkah aku barang satu-dua hari menginap di rumahmu?"

"Penghuni surga" ini lalu berkata, "baiklah..." Satu hari berlalu, dua hari berlalu dan tiga hari pun berlalu. Akhirnya sahabat ini tak tahan dan berkata pada "penghuni surga". "Wahai saudaraku sebenarnya aku telah berbohon padamu. Aku tak bertengkar dengan keluargaku.

Aku bermalam di rumahmu untuk melihat apa amalanmu karena aku mendengar rasul menyebutmu penghuni surga. Tapi setelah aku perhatikan amalan mu sama dengan apa yang aku kerjakan. Aku jadi tak mengerti..."

"Penghuni surga" itu menjawab, "maafkan aku, memang inilah aku! Ibadah yang aku jalankan tidak kurang- tidak lebih sebagaimana yang engkau saksikan selama tiga hari ini. Aku tak tahu mengapa Rasul menyebutku "penghuni surga".

Sahabat itu lalu pergi meninggalkan "penghuni surga". Tiba-tiba "penghuni surga" itu memanggil sahabat tersebut. "Saudaraku, aku jadi teringat sesuatu. Aku hanya merasa tak pernah merasa dengki pada saudaraku sesama muslim.

Mungkin ini......"

Sahabat tersebut langsung berseru, "ini dia yang membedakan engkau dengan kami. Ini dia rahasianya mengapa Rasul menyebutmu penghuni surga. Ini yang tak dapat kami lakukan."

Ternyata, soal dengki ini bukan persoalan sepele. Ada seorang tukang sate di tempat saya. Alhamdulillah satenya yang memang empuk itu laris bukan main. Tetangganya mulai mencibir dan menuduh si Tukang sate memelihara tuyul. Ketika anak si Tukang Sate kecelakaan, lagi-lagi tetangganya mencibir, "rasakan! itulah tumbal akibat main tuyul!"

Lihatlah kita. Apakah kita bertingkah laku persis tetangga Tukang Sate tersebut ?

Kita tak rela kalau saudara kita memiliki nilai "lebih" di mata kita. Repotnya, rumput tetangga itu biasanya terlihat lebih "hijau" dibanding rumput kita. Kita dengki dengan keberhasilan saudara kita.

Ada seorang wanita karir yang berhasil. Karena beban kerjanya dia sering kerja lembur sampai baru pulang saat larut malam. Tetangganya menuduh ia wanita jalang. Ketika dari hasil jerih payahnya ia mampu membeli mobil, tetangganya ribut lagi, kali ini ia disebut "simpanan seorang bos".

Masya Allah! Bukannya belajar dari keberhasilan saudara kita tersebut, kita malah mencibir dan menuduhnya yang bukan-bukan.

Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki biasanya lahir buruk sangka, kemudian dari buruk sangka biasanya lahir fitnah dan tuduhan, untuk menyebarkan fitnah ini kita bergosip kemana-mana sambil menggunjingkan perilaku orang tersebut.

Lihatlah, bermula dari dengki kemudian menyusul perbuatan dosa yang lain!

Sulit sekali menghilangkan rasa dengki tersebut. Untuk itu marilah kita minta perlindungan-Nya:

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan KEDENGKIAN dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

(QS 59:10)

Kata-kata mutiara penuh makna

Kumpulan Kata-Kata Mutiara Terbaik dan Penuh Makna

  1.     Perhatikan apa yang dikatakan, jangan perhatikan siapa yang mengatakan.
  2.     Jangan memberikan sesuatu kepada orang lain yang kamu sendiri tidak menyukainya.
  3.     Bahasa menunjukkan bangsa, budi menunjukkan diri, iman menunjukkan pedoman.
  4.     Waktu akan terasa lambat bagi mereka yg menunggu, terlalu panjang bagi mereka yg gelisah, dan terlalu singkat bagi mereka yg bahagia, tetapi waktu akan terasa abadi bagi mereka yg mampu bersyukur.
  5.     Sahabat sejati ialah mereka yang membangkitkan kepercayaandirimu ditengah orang lain menjatuhkan dan meremehkanmu.
  6.     Lebih baik diam dan membiarkan orang lain menganggapmu bodoh daripada terus berbicara hingga membuat mereka mengangapmu lebih bodoh dari yang mereka kira.
  7.     Kejujuran yang menyakitkan itu tidak lebih baik daripada kebohongan yang memberikan sanjungan.
  8.     Kebahagiaan bukan karena memiliki semua yang ada, tapi dikarenakan mensyukuri apa yang telah ada.
  9.     Orang tua itu ibarat Qur'an yang sudah usang, namun walau usang tapi harus selalu dijunjung dan dimuliakan.
  10.     Kebahagiaan tak harus kita dapatkan dari orang yg kita sayangi, tapi juga bisa dari orang yg menyayangi kita.
  11.     Penyair adalah orang yang tidak bahagia, karena betapapun tinggi jiwa mereka, mereka tetap diselubungi oleh air mata.
  12.     Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat keinginan adalah buta jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta.
  13.     Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata 'Ibu', dan panggilan indah adalah 'Ibuku'. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.
  14.     Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul dari luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.
  15.     Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati, satu hati menangis dan satu lagi bersabar.
  16.     Alangkah mulianya hati yang sedih tetapi dapat menyanyikan lagu kegembiraan bersama hati-hari yang gembira.
  17.     Orang yang terpuji ialah mereka yang malu bila menerima pujian dan diam bila tertimpa fitnah.
  18.     Penyiksaan tidak membuat manusia tak bersalah jadi menderita, juga tidak menghancurkan manusia yang berada di pihak kebenaran.
  19.     Bila dua orang wanita berbicara, mereka tidak akan mengatakan apa-apa, tetapi jika seorang saja yang berbicara, dia kan membuka semua tabir kehidupannya.
  20.     Kehidupan tidak berjalan mundur, dan tidak pula tenggelam dimasa lampau.
  21.     Kamu mungkin akan meupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu.
  22.     Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu
  23.     Memiliki sedikit iman lebih berharga dari pada memiliki segudang emas
  24.     Kebahagiaan bukan memiliki banyak hal, tetapi karena ia tidak membandingkan miliknya dengan milik orang lain

Treat Love As LAst Love

Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya…..


Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, “Seberapa besar kamu mencintaiku?”Sang pemuda tdk begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis marah.

Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal. Sang pemuda selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya….

Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia melamar gadisnya, “Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata2 manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupku.

Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar menyetujui hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?” Si gadis setuju, dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya merestui hubungan mereka.

Sebelum pemuda itu berangkat, mereka bertunangan terlebih dahulu. Si gadis tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN….. Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon. Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan.

Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja, si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat. Melihat air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka.

Tetapi dia menemukan… bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu….. Menurut dokter kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat menjawab sepatah kata pun, gadis tersebut pingsan… Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu…Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sediakala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu. Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya. Dia menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau lagi menunggunya.

Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata…Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia…

Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha melupakan sang pemuda… Suatu hari sahabatnya memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarinya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan dimana dia berada dan menyuruh pemuda tsb. untuk melupakannya….Lebih dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan.
Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan betapa terperanjat dan tidak percaya apa yang dia lihat , namanya tercantum dlm undangan. Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya.Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa….

Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku menjadi suaramu. “I L O V E Y O U”

Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya…. Si gadis akhirnya tersenyum. Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu… dan baru kamu akan belajar cara memberi…..Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu….. dan baru kamu akan belajar cara menghargai……Jangan pernah menyerah.Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar, mengandung banyak resiko…Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata: ?Aku mencintainya

Membuka Pintu Surga


Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala."

"Terima kasih," jawab Ali.

Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah.

Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?"

Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''

Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.Ali pun bergegas berangkat ke pasar.

Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan."

Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."

Merindukan Ibu

Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan,karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku.

Suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anakku masih tertidur. Ohhh aku harus menyediakan makan untuknya.

Karena masih ada sisa sedikit nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas

berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.

 Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:

“Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya . Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku, aku minta maaf,ayah … “

Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku, tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, kupeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.

 Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan,

“Aku minta maaf, ayah“.

Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis,aku yakin , jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf :

“Maaf, ayah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.

 Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?

Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk ibu…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”

Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan. Aku bilang pada anakku, “Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Aku berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. aku jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.

Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur yang isinya: ‘ibu sayang’, Aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

Ibu, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua. Tapi bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingat kamu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul ?

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku

Note : Untuk para suami dan laki-laki, yang telah dianugerahi seorang istri/pasangan yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari pada istrimu. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu. Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yang bisa menggantikannya.

Ia Hadir Untuk Di Cinta

Jika masih tertahan kelopak mata ini untuk tetap terbuka hingga larut, atau saat terjaga di pertengahan malam selalu saya sempatkan untuk menyambangi kamar anak-anak. Saya hampiri dan tatap wajah mereka bergantian sambil menghalau nyamuk yang hinggap di tubuh mereka. Wajah indah yang terlelap itu menyibakkan kejujuran dalam hati, bahwa mereka hadir sebagai amanah yang harus dijaga sebaik-baiknya. Mereka ada untuk dicinta.

Terbayanglah kekesalan yang hampir tercipta akibat perbuatan dan tingkah nakal mau pun pembangkangan mereka siang tadi. Terlintaslah amarah yang nyaris meluap saat mereka tak mendengar perintah mau pun ketika peraturan terlanggar. Beruntung kekesalan itu hanya sempat mampir di kepala dan tak sampai keluar makian kasar yang pasti akan melukai telinga mereka. Bersyukur amarah ini tak sekali pun sempat membuat mereka melihat saya seperti monster yang menakutkan. Mereka hanya anak-anak yang sangat pantas dan bisa sangat dimaafkan ketika berbuat kesalahan. Jiwa mereka masih sangat rapuh untuk menerima kalimat dan perilaku kasar orang tua hanya karena kesalahan kecil yang mereka pun mungkin tak sadar kalau itu benar-benar sebuah kesalahan.

Bisa jadi letak kesalahan justru terletak pada orang tua yang terlalu kaku membuat peraturan, mengekang kebebasan mereka sebagai individu yang meski masih kecil tetap saja seorang manusia yang berhak dan bebas memilih untuk melakukan yang terbaik menurut mereka. Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, tapi lebih kepada mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang sebenarnya.

Menatap kembali wajah-wajah bersih itu dalam tidur mereka yang mungkin sedang memimpikan Ayah dan Ibu yang tengah menimang dan membuai penuh kasih, tergambar jelas tak sedikit pun ada dosa di diri mereka. Kalau mau menghitung-hitung, jangan-jangan justru kita lah yang lebih banyak berbuat kesalahan terhadap mereka dibanding jumlah kesalahan kecil mereka.

Saya teringat banyak kejadian di luar. Misalnya ketika di sebuah angkot seorang ibu memaki anaknya yang masih berusia empat tahun -dari posturnya seukuran anak saya- dengan kalimat yang sangat belum waktunya anak sekecil itu mendapatkannya. Belum lagi tempelengan yang sempat mampir di kepalanya. “Gila lu ya, kalau jatuh mampus luh,” hanya karena ia sempat melongok ke arah pintu angkot. Sebuah kesalahan kecil yang mestinya bisa disikapi lebih bijak dengan sebuah nasihat lembut. Atau ketika isteri saya bercerita tentang seorang ibu dari teman sekolah anak kami di TK. Anaknya terjatuh saat berlari, “Nyungsep sekalian biar bonyok tuh muka. Udah dibilangin jangan lari,” itu pun masih ditambah satu tamparan di kepala. Yang pasti itu tak meredakan tangis si anak, bahkan membuat memar di lututnya semakin perih terasa hingga ke hati.

Mengusap bulir keringat di kening mereka dan membelai rambutnya saat tidur membuahkan pertanyaan di benak ini, haruskah bintang-bintang sejernih ini mendapatkan perlakuan sekasar itu? Lihat saja senyum mereka saat terlelap, dan dengarkan hati mereka bernyanyi dalam mimpi. Anda akan mendengarkan nyanyian riangnya jika Anda memperlakukannya sepanjang hari seperti halnya Anda tengah menciptakan sebuah mimpi indah untuknya. Namun jangan terperanjat ketika tengah malam tidur Anda terusik saat ia mengigau dan berteriak ketakutan. Hanya rintihan yang bisa terdengar dari mimpinya karena sepanjang hari ia hanya mendapatkan kecemasan dan ketakutan dari kalimat kasar, delikkan mata dan ayunan keras tangan Anda ke tubuh mereka.

Tak seekor nyamuk pun pernah saya persilahkan untuk menyentuh setiap inci kulit mereka. Lalu kenapa masih ada yang tega mencederai anak-anak, padahal dalam berbagai dongeng mereka selalu mendengar bahwa yang kasih dan cintanya tak terbanding itulah Ayah dan Ibu. Coba sentuh dengan lembut wajah halusnya saat tidur, itu akan membuatnya bermimpi indah seolah tengah terbaring di pangkuan bidadari.

Anak-anak tak pernah membenci orang tuanya, bahkan saat mereka mendapatkan perlakukan kasar dari orang tua pun, tetap saja nama Ayah atau Ibu yang mereka panggil saat menangis. Anak-anak tak pernah berdosa terhadap orang tuanya, justru kebanyakan orang tua yang berdosa kepada mereka dengan makian kasar dan pukulan menyakitkan. Anak-anak tak pernah benar-benar membuat orang tua kesal, orang tua lah yang teramat sering membuat mereka kecewa mendapati Ayah dan Ibunya tak seindah syair lagu yang selalu diajarkan guru di sekolah.

Ah, kadang orang tua baru menyadari bahwa anak-anak hadir untuk dicinta saat ia terbaring lemah di salah satu tempat tidur di bangsal anak-anak. Atau ketika Tuhan mencabut amanah itu dari kita. Menangiskah kita?

Maafkan Ibu, Bidadari Kecilku

Malam belum seberapa tua, mata anak sulungku belum juga bisa dipejamkan. Beberapa buku telah habis kubacakan hingga aku merasa semakin lelah. "Kamu tidur donk Dila, Ibu capek nih baca buku terus, kamunya nggak tidur-tidur," pintaku .

Ditatapnya dalam wajahku, lalu kedua tangannya yang lembut membelai pipiku. Dan, oh Subhanallah, kehangatan terasa merasuki tubuhku ketika tanpa berkata-kata diciumnya kedua pipiku. Tak lama, ia minta diantarkan pipis dan gosok gigi. Ia tertidur kemudian, sebelumnya diucapkannya salam dan maafnya untukku. "Maafin kakak ya Bu. Selamat tidur," ujarnya lembut.

Kebiasaan itulah yang berlaku dikeluarga kami sebelum tidur. Aku menghela nafas panjang sambil kuperhatikan si sulung yang kini telah beranjak sembilan tahun. Itu artinya telah sepuluh tahun usia pernikahan kami. Dentang waktu didinding telah beranjak menuju tengah malam. Setengah duabelas lewat lima ketika terdengar dua ketukan di pintu. Itu ciri khas suamiku. Seperti katanya barusan ditelepon, bahwa ia pulang terlambat karena ada urusan penting yang tak bisa ditunda besok. Suamiku terkasih sudah dimuka pintu. Cepat kubukakan pintu setelah

sebelumnya menjawab salam. "Anak-anak sudah tidur?" Pertanyaan itu yang terlontar setelah ia bersih-bersih dan menghirup air hangat yang aku suguhkan. "Sudah," jawabku singkat.

"Kamu capek sekali kelihatannya. Dila baik-baik saja?"

Aku menggangguk. "Aku memang capek. Tapi aku bahagia sekali, bahkan aku pingin seperti ini seterusnya."

Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu menatapku dengan sedikit bingung. "Akan selalu ada do'a untukmu, karena keikhlasanmu mengurus anak-anak dan suami tentunya. Dan aku akan minta pada Allah untuk memberimu pahala yang banyak," hiburnya kemudian.

Aku tahu betapa ia penasaran ingin tahu apa yang hendak aku katakan, tapi ia tak mau memaksaku untuk bercerita. Tak sanggup aku menahan gejolak perasaan dalam dada yang sepertinya hendak meledak. Kurangkul erat tubuhnya. "Maafkan aku mas," bisikku dalam hati.

Pagi ini udara begitu cerah. Dila, sulungku yang semalam tidur paling akhir menjadi anak yang lebih dulu bangun pagi. Bahkan ia membangunkan kami untuk sholat subuh bersama. Mandi pagipun tanpa dikomandoi lagi. Dibantunya sang adik, Helmi, memakai celana. Dila memang telah trampil membantuku mengurus adiknya. Tak hanya itu, menyapu halamanpun ia lakukan. Tapi itu dengan catatan, kalau ia sedang benar-benar ingin melakukannya. Kalau "angot" nya datang, wah, wah, wah. Inilah yang ingin aku ceritakan. Dila kerap marah berlebihan tanpa sebab yang jelas, sampai membanting benda-benda didekatnya, menggulingkan badan dilantai dan memaki dengan kata-kata kotor.

Memang aku pernah melakukan suatu kesalahan saat aku kesal menghadapi ulahnya. Saking tak tertahannya kesalku, aku membanting pintu dan itu dilihatnya. Wajar saja kalau akhirnya Dila meniru perbuatanku itu. Penuh rasa sesal saat itu, aku berjanji untuk tidak melakukan hal itu kembali. Kuberikan penjelasan pada Dila bahwa aku salah dan hal itu tak boleh ia lakukan. Entah ia mengerti atau tidak.

Hari itu Dila bangun agak siang karena kebetulan hari Minggu, pakaiannya basah kena ompol. Padahal ia tak biasanya begitu. Segera saja kusuruhnya mandi. Tapi Dila menolak, dengan alasan mau minum susu. "Boleh, tapi setelah minum susu , kakak segera mandi ya karena baju kakak basah kena ompol" Dila menyetujui perjanjian itu. Tapi belum lagi lima menit setelah habis susu segelas, ia berhambur keluar karena didengarnya teman-temannya sedang main. Mandipun urung dikerjakan. Aku masih mentolelir. Tapi tak lama berselang "Kak Dila. mandi dulu," aku setengah berteriak memanggilnya karena ia sudah berada diantara kerumunan anak yang sedang main lompat tali. "Sebentar lagi Bu. Kakak mau lihat Nisa dulu," begitu jawabnya.

Aku masih belum bereaksi. Kutinggal ia sebentar karena Helmi merengek minta susu. Setelah membuatkan susu untuknya, aku keluar rumah lagi. Kali ini menghampiri Dila. "Waktumu sudah habis, sekarang kamu mandi", bisikku pelan ditelinganya. Dila bereaksi menamparku keras, "Nanti dulu!" aku tersentak, mendadak emosiku membludak. Aku balas menampar Dila hingga meninggalkan bekas merah di pipi kanannya. Tanpa berkata-kata lagi, kuseret tangannya sekuat tenaga. Dila terus meronta. Kakiku digigitnya. Aku dengan balas mencubit. Layaknya sebuah pertarungan besar kami saling memukul dan meninggikan suara. Setibanya dikamar mandi Dila kuguyur berulang-ulang, kugosok badanya dengan keras, kuberi sabun dan kuguyur lagi hingga ia tampak gelagapan. Aku benar benar kalap. Selang beberapa menit kemudian, kukurung Dila dikamar mandi dalam keadaan masih tidak berpakaian. Ia menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Berulang kali ia memaki dan mengatakan akan mengadukan kepada ayah.

Tak berapa lama kemudian suara Dila melemah, hanya terdengar isak tangisnya. Aku membukakan pintu dengan mengomel. "Makanya, kalau disuruh mandi jangan menolak, Ibu sampe capek, dari tadi kamu menolak mandi terus. Awas ya kalau seperti ini lagi. Ibu akan kunci kamu lebih lama lagi. Paham!", entah ia mengerti atau tidak. Dila hanya menangis meski tidak lagi meraung. Setelah rapih berpakaian, menyisir rambut dan makan. Dila seolah melupakan kejadian itu. Iapun asyik kembali main dengan teman-temannya.

Peristiwa itu tidak hanya satu dua kali terjadi. Tidak hanya pada saya ibunya tapi juga pada ayahnya. Tapi, cara suamiku memperlakukan Dila sangat berbeda. Barangkali memang dasarnya aku yang tidak sabar menghadapi anak rewel. Tiap kali itu terjadi, cara itulah yang aku lakukan untuk mengatasinya. Bahkan mungkin ada yang lebih keras lagi dari itu. Tapi apa yang dilakukan Dila pada saya, Subhanallah, Dila tak pernah menceritakan perlakuanku terhadapnya kepada siapapun. Seolah ia pendam sendiri dan tak ingin diketahui orang lain. Akupun tak pernah menceritakan kepada suami, khawatir kalau ia marah. Padahal Dila itu anak kandungku, anak yang keluar dari rahimku sendiri.

Aku kadang membencinya, tidak memperlakukan dia layaknya aku memperlakukan Helmi adiknya. Dila anak yang cerdas. Selalu ceria, gemar menghibur teman-temannya dengan membacakan mereka buku yang tersedia dirumah. Bahkan teman-temannya merasa kehilangan ketika Dila menginap di rumah neneknya diluar kota, yang cuma dua malam.

Belaian lembut tangan suamiku menyadarkan aku. Kulepas pelukanku perlahan. Tak sadar air mata menyelinap keluar membasahi pipi. "Sudahlah, malam semakin larut. Ayo kita tidur," ajaknya lembut. Aku berusaha menenangkan gemuruh dibatinku. Astaghfirullah, aku beristighfar berulang kali. "Aku mau tidur dekat Dila ya?" pintaku. Lagi-lagi kearifan suamiku membuatku semakin merasa bersalah. Kuhampiri Dila yang tampak pulas memeluk guling kesayangannya. Siswi kelas tiga SD itu begitu baik hati. Aku malu menjadi ibunya yang kerap memukul, berkata-kata dengan suara keras dan...oh Dila maafkan Ibu.

Disisi Dila bidadari kecilku, aku bersujud di tengah malam. " Ya Allah, melalui Dila, Engkau didik hambamu ini untuk menjadi ibu yang baik. Aku bermohon ampunan kepada-Mu atas apa yang telah kulakukan pada keluargaku, pada Dila. Beri hamba kesempatan memperbaiki kesalahan dan ingatkan hamba untuk tidak mengulanginya lagi. Dila, maafkan Ibu nak, kamu banyak memberi pelajaran buat Ibu."

Sebuah renungan untuk para ibu (termasuk saya didalamnya). Semoga kita semakin menyayangi anak-anak dan memperlakukan mereka dengan baik. Sebagaimana diingatkan dalam sebuah hadits Nabi SAW agar manusia menyayangi anak-anaknya. Ketika Aqra' bin Habis At Tamimi mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh anak tapi tak pernah mencium salah seorang diantara mereka, Rasululloh SAW bersabda "barangsiapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi" (HR. Bukhari dan Tirmizi)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Daily Quotation - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger