Latest Post :
Recent Posts
Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan

Cerpen Cinta dan Persahabatan : SEBERKAS LUKA MASA LALU

(Di ilhami dari kisah nyata cerita seorang sahabat ) 

*****
Ini adalah kisah tentang seseorang yang meninggalkan dan yang di tinggalkan ,
Yach , kisah yang mungkin tak biasa di ungkapkan dengan kata-kata , hemm
Rhisa masih asyik dengan buku diary nya , sambil melihat-lihat keindahan bintang di balik jendela kamarnya , entah kenapa ia tiba- tiba saja teringat peristiwa , 13 tahun silam , yang ,masih menyisakan luka hati yang paling dalam ,

Dulu , saat Rhisa masih SD , Rhisa punya teman , yach bisa di bilang sahabat lah , namanya Dhina .Hubungan mereka cukup dekat , bisa di bilang seperti saudara, berhubung umur Dhina lebih muda dari Rhisa , jadi  Dhina sudah Rhisa anggap seperti saudara sendiri ,

Segala susah dan senang mereka berbagi bersama , begitu juga dengan orang tua Rhisa yang sudah menganggap nya seperti anak sendiri , terutama ayah nya Rhisa. Ayah Rhisa begitu sangat menyayangi Dhina seperti beliau menyayangi anak nya Rhisa .

Tapi semua itu hanya sesaat , semua berubah menjadi perih yang sampai saat ini masih Rhisa rasakan , semua berawal saat ayah Rhisa sakit keras , saat itu Rhisa sedih sekali   , Rhisa butuh kehadiran Dhina di sisi nya , yach sekedar memberi semangat atau menghibur seperti apa yang Rhisa lakukan saat Dhina di marah ibunya . Dhina adalah satu-satunya orang yang Rhisa harapkan saat itu , tapi .sekalipun Dhina tidak pernah datang menemui Rhisa, apalagi untuk sekedar menjenguk ayah Rhisa , entah apa masalahnya sehingga ia begitu tega dengan Rhisa.

Hingga Ayah nya Rhisa mengehembuskan nafas terakhir , Dhina pun tidak muncul di hadapan Rhisa saat itu, Rhisa hanya menahan perih dan sedih sendirian, .

Seteleh tujuh hari pasca meninggalnya ayah nya , Rhisa pun mulai masuk sekolah ,meski hati masih di rundung duka , ia berharap dapat menemui  Dhina , hari ini dan meminta alas an tas perubahan sikap Dhina yang belakangan ini berubah drastis.  , tapi apa yang Rhisa dapat , sepatah kata pun Dhina tidak menyapa Rhisa ,walaupun sekedar untuk menanyakan kabar Rhisa , sehingga mau tidak mau Rhisa  pun nekat  untuk kerumah nya  minta penjelasan dari  Dhina TERLAMBAT ! ternyata Dhina sudah pindah rumah ,Rhisa juga tidak tahu dia pindah di mana sekarang , yang ada di benak Rhisa sekarang adalah sebenarnya apa yang terjadi , dan ini tidak adil rasanya buat Rhisa. Dhina sahabat Rhisa telah pergi .
 
Seiring berjalan nya waktu dan setelah sekian lama , tiba- tiba saja Rhisa  tidak sengaja bertemu dengannya di jalan,Dhina bersama dengan orang lain saat itu ,Rhisa pun mengejar nya sambil memanggil- manggil namanya , Dhina sempat menoleh kearah Rhisa , dan setelah itu ia pergi berlalu meninggalkan Rhisa. Rhisa pun lagi –lagi kehilangan jejak , Dhina sahabat nya itu , ia pun menangis , tiba- tiba muncul kebencian yang sangat luar biasa dalam dirinya. Dan ia pun berjanji pada diri nya sendiri ,
Mulai saat itu , Rhisa akan berhenti untuk mencari Dhina dan berhenti untuk meminta penjelasan lagi , habis sudah kesabaran Rhisa , yang ada hanya sebuah luka yang mendalam,. Pengalaman yang begitu menyakitkan membuat Rhisa tidak percaya lagi apa yang nama nya ‘SAHABAT “

.

Tanpa terasa air mata Rhisa  mengalir menetes membasahi buku diary nya, Rhisa pun cepat” mengusap air ,matany itu dan berlalu , hingga ia terlelap bersama mimpi –mimpi hingga mentari menyambut nya esok pagi . (Di adopsi dari cerita sahabat , sebuah kisah nya ).

Perpisahan

 
PERPISAHAN

Setelah lulus UN aku, vine dan karlina janji mau bermain kesawah dimana dekat dengan rumah karlina,
kami ingin foto-foto bersama,
kenalkan vine sahabatku yang ga modal sama kaya karlina ga modal juga hhahaa,
itu dia yang gw suka dari mereka berdua unik dan aneh.

***
tiba–tiba hape berdering dan kuangkat dan ternyata vine menelpon menanyakan jadi atau tidak nya gw kerumah karlina
“ri jadi gak”ajaknya dengan nada heran
“jadi donnk”jawab ku
“ya sudah lu tunggu disana ya”dia menyuruh dan ga ngasih tau dimana tempatnya(aneh ga?)
“ok” ok-ok aj padahal ga tau paling tempat biasa
 sesampai tempat kita bertemu gw tunggu sebentar dia sekitar 5 menit dan akhirnya dia datang
“ri sorry ya nunggu”dengan muka aneh nya ahhaha
“ga papa”jawabku dengan polos
“yuk lah ntar kesiangan”dengan masih muka aneh

***
sesaat sampai dirumah karlina gw dengan vine langsung disuruh masuk disana sudah ada makanan yang sangat Lezat,hmm Yami-yami ^_^ ,asik nih.
“tumben lu modal kar ga biasanya mau gratisan hahahha”ledek ku
“hahahaha”vine ikut tertawa
“jangan ketawa vi sama aja lu”ledeku kedia
“ia nih lagi mau modal aj hahaha” karlina  membanggakan kemodalan nya

***
saat kita makan kita sekalian bercanda tawa,
ini lah yang membuat gw hangat didekat mereka berdua,
sahabat memang selalu membuat kita tenang dalam keramaian atau kesepian.
setelah Makan selsaikami langsung berangkat kesawah.

Semoga bermanfaat Cerpen Persahabatan diatas dan baca juga Koleksi Cerpen Persahabatan yang lainnya semoga menjadi tolak ukur dalam persahabatan anda dengan seseorang.

My Ship Friend


Senja yang dulu indah kini menjadi temaram dan bulan yang dulu purnama kini perlahan berubah menjadi sabit. Seperti keadaan hati seorang gadis remaja yang meratapi kekosongan dan kehampaan hatinya karena ditinggal oleh sahabat yang selama ini setia menemaninya baik syka maupun duka. Dulu, waktu usiaku beranjak 17 tahun, aku mempunyai beberapa sahabat salah satunya Icha. Icha tinggal di Ciracas, JakartaTimur. Dia anak pertama dari 2 bersaudara, dia adalah seorang remaja yang lugu dan sangat ceria. Kami bersahabat suddah cukup lama, aku kenal Icha waktu kami sama-sama mendaftar di salah satu SMP favorit di Jakarta. Setelah awal oerkenalan itu,pertemanan kami berlanjut karena kami diterima di SMP itu. Kami selalu bersama-sama bagai amplop dan perangko yang tak dapat terpisahkan, itulah kami. Kami juga selalu satu kelas.

Setelah lulus SMP aku dan Icha memutuskan untuk satu sekolah, hari pertama aku dan Icha menjalani ospek, rasanya takut dan tegang banget, tapi aku melihat seorang cowok yang sangat perfeck di kantin sekolah, dia sangat manis apalagi pada saat aku melihatnya sedang tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya, manis sekali senyumnya, disaat aku sedang asyik memperhatikan cowok itu tanpa ku sadari didepanku ada salah seorang kakak senior yang sangat galak, upzzz…. Aku menabrak dia, dia marah-marah padaku meski aku telah minta maaf padanya, lupakan saja dia kita kembali pada cowok yang aku lihat tadi, tapi aku mencari-cari kesekeliling kantin tapi cowok itu udah gak ada. Icha hanya tertawa melihat tingkah lakuku. Huh… ini semua gara-gara keteledoranku, tapi gak apa-apa suatu hari nanti pasti aku dapat bertemu dengannya kembaali karena aku yakin dia siswa di SMA ini. Aku dan Icha melanjutkan perjalanan kami ke kelas. Ospek pertama telah dimulai, ada beberapa kakak senior masuk kekelas tanpa ku sadari cowok yang ku lihat di kantin sekolah tadi pagi ada didepan mataku. Aku senang sekali karena aku kembali beetemu dengannya walau dia tak ku kenal sama sekali.
Aku mencari tau siapa sebenarnya cowok itu, dari beberapa orang yang aku tanya mereka mengatakan dia adalah ketua osis, namanya radit, Cuma itu informasi aku dapatkan tentang dia, tapi udah cukup kok. Singkat cerita aku dan kak Radit mnjedi tambah akrab tapi cuma sebatas teman. Yang tak pernah aku duga ternyata kak Radit naksir sama Icha, aku sedih banget karena dia adalah cinta pertamaku, tapi apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa, dan aku juga sempat kecewa pada Icha karena dia menerima kak Radit menjadi kekasihnya, Icha kan tau kalau aku suka sama kak Radit tapi kenapa dia tega padaku. Mungkin inilah nasibku, setelah kejadian itu persahabatan aku dan Icha menjadi renggang, aku jarang menyapanya dan sepertinya juga dia sekarang jarang ada waktu buat kita berdua sanma-sama lagi seperti dulu. Lagi pula aku tak sekelas dengannya.

Waktu terus berputar, tanpa terasa tahunpun berganti. Akhir-akhir ini aku melihat Icha tampak murung dan gak seperti biasanya yang sangat ceria. Walau aku belum bisa memaafkan Icha tapi walau bagaimanapun dia adalah sahabatku dan aku harus tau apa yang sedang terjadi. Satauku dari berita yang beredar kalau Icha mengidap penyakit tumor yang bersarang diperutnya sejak beberapa tahun ini, sejak dokter memfonis penyakit itu Icha berubah menjadi nak yang pemurung danpendiam. Aku sangat merasakan perubahan itu, tapi setiap kali aku tanya dia tak pernah mau cerita dan jujur padaku. Menurutku dia berubah menjadi seperti itu karena mungkin dia merasa hidupnya tak akan lama lagi. Seiring berjalannya waktu perut Icha makin membesar, aku belum percaya dengan apa yang temen-temen bilang padaku. Aku desak Icha untuk menceritakan apa yang terjadi padanya, akhirnya Icha mau bercerita. Aku sempat terkejut mendangarnya sekaligus sedih bercampur dengan rasa kekecewaan, mengapa baru seekarang dia cerita semua itu padaku. Tapi mungkin karena aku tak sedekat dulu sama dia. Aku juga denger-denger dari yang laen Icha putus, Icha diputuskan kak Radit karena keadaan Icha dg perut yang makin membesar. Aku sedih sekali, tapi dia pernah menghianati persahabatan yang telah lama kami bangun.

Icha masih tetap sekolah, tapi lama kelamaan dia merasa kecil hati dan malu. Dengan kondisi tubuh yang semakin menurun, sampai akhirnya Icha dirawat di Rumah sakit Haji Pondok Gede. Aku dan teman-taman menjenguknya untuk memberikan semangat dan dukungan padanya agar Icha gak semakin drop dan putus asa. Hanya sampai disitu saja kabar yang aku dengar tentang Icha, disatu sisi aku masih kecewa padanya tapi disisi lain aku juga mempersiapkan UN.
 
Pagi hari yang sangat gelap karena hujan turun begitu derasnya, aku sedang duduk melamun memikirkan bagaimana keadaan Icha sekarang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan ringtone handphoneku yang berbunyi dank u lihat dilayar hpku ternyata mamanya Icha memanggil, fikirku tumben tapi ada apa ya, kok pagi-pagi gini tante telfon aku. “halo assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Cika?”, nada suara mama Icha tampak berat, sepertinya dia sedang menangis. “ii…aaa tante, ada apa kokpagi-pagi begini telfon Cika? Trus bagaimana kabar Icha tante?” tanyaku agak ragu, “Icha telah berpulang Ka” belum sempat aku mengucapkan turut berduka cita pada tante, tut…tut…tut…tut telfon tiba-tiba terputus. Aku menangis dan menyesali dengan semua yang terjadi, dihatiku tersirat penyesalan yang amat mendalam, aku terlalu jahat dan egois pada Icha dan gak pernah meluangkan waktu untuk menjenguk sahabatku sendiri yang menjalani hari-hari akhirnya sendirian, tanpa aku. “Maafkan sahabatmu ini Ca…..hik..hik..hik…!!!” tangisku
Aku datang ke rumah Icha untuk melihat dia terakhir kalinya dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Icha. Setibaku disana aku melihat Icha terbaring kaku, dikelilingi orang-orang yang membaca yasin untuknya, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. “Icha…..” panggilku, “sudahlah Ka, relakanlah kepergian Icha, agar dia tenang di Alam sana” mama Icha ada disampingku, dan memberikan selembar kertas padaku, “ini dari Icha buat kamu, dia menulis pada saat kamu jarang menemuinya, tante tinggal dulu kebawah”. “makasih tante dan Cika minta maaf kalo selama ini Cika gak pernah menjenguk dia, Cika lagi UN tante,” aku menangis. “gak apa-apa kok tante ngerti, kamu ada masalah ya sama Icha?” tanya mama Icha, “eng…enggak kok tante, kami berdua baik-baik saja””ya udah jangan nangis lagi, tante ke bawah bdulu ya” tante pun meninggalkanku sendiri di kamar Icha karena Perlahan-lahan tadi aku pingsan, aku melihat foto-foto yang ada dimeja samping tempat tidur, betapa lembutnya senyum Icha di foto itu. aku buka kertas ituperlahan-lahan, dan aku pun mulai membaca kata demi kata disurat itu.
Sebelumnya gue minta maaf atas kejadian kemaren”, bukan maksud gue untuk merebut kak Radit dari lo, tapi gue juga cinta dia dan gue juga udah putus ma dia, karena dia bukan laki-laki yang baik. O ya, lo tau kan kalo gue gak bisa buat puisi kayak lo, tapi ini puisi gue buat khusus sahabat sejati gue ini, maaf ya kalo buatan gue gak sebagus puisi-puisi lo, heheheh……..

Akhir Cerita Persahabatan Doraemon dan Nobita

 
Fujiko F. Fujio pengarang komik cerita ini memang sudah meninggal. Konon katanya, beliau belum sempat menyelesaikan kisah persahabatan anak manusia dan kucing robot ini sampai ajal menjemputnya. Konon katanya pula, beliau ternyata meninggalkan sepucuk kisah yang menceritakan akhir dari cerita doraemon. Mungkin statement seperti ini sudah banyak ditemukan dalam kaskus atau artikel lainnya di berbagai media online. Namun, saya sangat ingin memaparkan dan mengabadikannya dalam akun kompasiana saya.

Banyak sekali versi tentang ending cerita doraemon. Ada yang simpel banget, ada yang mengharukan banget, ada yang keren banget dan gak nyangka!
Sebelum saya menulis ini, saya belum refresh lagi tentang bagaimana cerita asli yang telah beredar di telinga orang-orang. Saya akan mengungkapkannya kembali dengan seingat saya, versi saya tanpa ada yang dikurang atau ditambah.

  1. Hari itu sepulang sekolah, Nobita mendapati Doraemon terkulai lemah di dalam kamar. Nobita  membangunkan Doraemon berkali-kali, tidak ada jawaban. Awalnya dia berpikir bahwa doraemon sedang tertidur sangat pulas. Setelah cukup lama dibiarkan, Doraemon tetap tidak berkutik. Nobita mulai panik dan memanggil adiknya doraemon yaitu dorami. Dorami mengecheck keadaan kakaknya, dan dia mendiagnosa bahwa kakaknya mengalami kerusakan dan sangat sulit diperbaiki. Nobita menangis sejadi-jadinya dan menganggap ini hanya lelucon namun dorami memastikan bahwa ini benar terjadi. Doraemon tidak akan hidup lagi. Tidak akan berfungsi lagi. Mulai dari saat itu nobita bertekad belajar yang rajin, tidak malas lagi, dan menjadi anak yang pintar. Dia ingin menjadi professor yang sangat cerdas dan cita-citanya hanya satu, yaitu memperbaiki sahabatnya yang sangat baik, doraemon. Jadilah nobita menjadi sangat pintar melebihi dekisuki bahkan. Menjadi anak yang memliki nilai tertinggi saat Ujian Nasional dan dia benar-benar menjadi professor terkenal di Jepang. Nobita menikah dengan shizuka dan hidup bahagia. Namun kebahagian nobita belumlah lengkap. Suatu hari, dia mengajak shizuka ke ruang kerja bawah tanahnya. Shizuka terpaku ketika melihat sesosok Doraemon, sosok yang sudah sangat lama tak dijumpainya terbujur di sana. Nobita berusaha memperbaiki doraemon dengan segala pengetahuan yang ia punya. Akhirnya, Nobita berhasil! Doraemon terbangun, dan…..“Nobita… Kamu sudah mengerjakan PR-mu belum?”Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Doraemon. Mereka berpelukan haru. 
  2. Di masa depan, Nobita ternyata adalah professor terkenal yang sangat ahli. Dia pulalah yang ternyata menciptakan doraemon untuk menjadi teman masa kecilnya yang kelam 
  3. Noobita selama ini hanya bermimpi tentang Doraemon. Doraemon tidak pernah ada.
Sekian, beberapa versi tentang akhir cerita Persahabatan Doraemon dan Nobita. Konon pula, versi-versi tersebut hanyalah kalangan para fans Doraemon dan tidak ada yang terbukti benar adanya. Berhubung Fujiko sudah tiada. Btw, versi lainnya dapat dibaca di http://id.wikipedia.org/wiki/Doraemon#Akhir_cerita . Check It Out! Pada intinya, bagaimanapun akhir kisah Doraemon dan Nobita membuat saya terenyuh. Kalau bisa, saya buat, Doraemon dan Nobita bersama selamanya saja sampai akhir hayat. Happy ending deh. Gimana? Hehehe

My Friend Or My Enemy





Berikut merupakan cerpen karyaku sendiri, yang ku buat untuk memenuhi tugas BI.., yaah walau ceritanya biasa bahkan terbilang tidak bagus tapi yang penting karya sendiri

#klogakbagusngapaindipost???? :D

dari pada mbaca cuplikan dariku yang gak penting banget n bakal ngerusak retina mata anda mending langsung baca aja cerita berikut..










My Friend Or My Enemy?


Terdengar suara adzan shubuh berkumandang menandakan bahwa aku harus segera bangun dari pulau mimpi untuk memulai rutinitas harianku yang ku awali dengan merapikan tempat tidurku. Kukebaskan selimut merah yang semalaman sudah melindungkiku dari dinginnya angin malam, ku tata bantal dan guling secara rapi dan ku letakkan boneka Teddy Bear kesayanganku di sampingnya. Setelah itu akupun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah shalat shubuh dengan kakak perempuanku. Oh iya, perkenalkan aku Sakura Elyu Helmington, aku duduk di bangku kelas enam SD di Sorbone Elementary School, aku merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Semenjak duduk di bangku kelas empat aku hanya tinggal bersama kakak perempuanku karena setelah lulus dari perguruan tinggi kakak laki-lakiku mendapat pekerjaan di luar kota, ayahku sendiri sedari aku kecil bekerja di luar negeri dan hanya pulang selama setahun sekali, sedangkan ibuku beliau sudah harus berpulang ke Sang Pencipta di saat umurku menginjak lima tahun. Semenjak ibuku meninggal semua pekerjaan rumah tangga beralih ke kakak perempuanku mulai dari bersih-bersih rumah, memasak, mengatur keuangan rumah tangga, sampai merawatku ia lakoni tanpa mengeluh walau saat itu ia masih duduk di bangku kelas dua SMP. Walau ia disibukkan dengan pekerjaan rumah akan tetapi ia bisa tetap berprestasi di sekolahnya tanpa meninggalkan kewajibannyasedikitpun. Namun setelah aku cukup besar untuk bisa melakukan pekerjaan rumah, pembagian pekerjaan rumahpun berlaku.

Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB, setelah selesai membersihkan rumah dan melahap sarapan yang sudah disiapkan kakakku, akupun bergegas untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Tak lama kemudian terdengar suara beberapa orang yang berteriak memanggilku “Elyu, Elyu.!” Begitu seterusnya. Sembari membenarkan dasi dan mengambil tas ranselku aku menuju ke sumber suara itu, ternyata itu adalah suara ke delapan temanku yang ingin mengajakku untuk berangkat sekolah bersama, dan diantara ke delapan orang itu terdapat sahabat sejatiku. Ia bernama Caren Angelina Hulson, perempuan aktif, dengan rambut panjang hitamnya, dan sedikit tomboy. Aku sudah mengenalnya sejak di taman kanak-kanak tetapi aku baru bersahabat dengannya semenjak duduk di bangku kelas satu SD. Itu berarti sudah hampir enam tahun lamanya aku menjalani masa-masa di sekolah dasar bersamanya. Setiap hari-hariku selalu ku


lewati bersamanya, sampai-sampai rasanya tidak ada satu detikpun dalam hari-hariku yang tidak ku lewati bersamanya. Sedih, senang, bahkan dari seorang anak kecil yang lugu, menjadi seorang anak yang akan menginjak remaja. Sikap Caren yang sedikit tomboy bertolak belakang dengan sikapku yang pendiam, tetapi hal itu malah membuat persahabatanku semakin erat dan membuatku semakin nyaman bersamanya, karena jikalau ada yang mengangguku Carenlah yang maju membelaku.

Tapi suatu hari konflik kecilpun terjadi antara aku dan Caren. Seperti halnya anak yang akan menginjak remaja lainnya aku dan Caren mengalami salah satu tanda pubertas yaitu mulai tumbuh rasa suka terhadap lawan jenis. Aku bercerita pada Caren bahwa aku menyukai salah satu anak sekelas kita tetapi aku tidak menyebutkan namanya melainkan hanya inisialnya saja dan karakter atau ciri-ciri dari cowok idamanku. Carenpun sesungguhnya juga menyukai salah satu anak di kelas kita tetapi ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapapun sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya sendiri. Caren menyukai Brandon, cowok iseng, usil, kocak, dan mempunyai paras yang cukup tampan dan keren, sedangkan aku sendiri menyukai Bruch yang karakternya mirip sekali dengan Brandon dan yang pasti tak kalah tampan dan keren dibandingkan Brandon. Caren yang tidak pernah bercerita tentang rasa sukanya kepada siapapun membuat aku sebagai sahabatnya sendiri tidak mengetahui hal itu, sehingga aku tidak pernah menjaga jarak dengan Brandon karena pada dasarnya aku memang sudah akrab dengannya, tetapi aku sangat tidak menyangka di balik keakrabanku dengan Brandon, ternyata dia menyukaiku. Hal itu membuat Caren marah padaku entah karena Brandon menyukaiku atau karena dia salah menebak orang yang aku sukai karena memang orang yang aku ceritakan pada Caren berinisial sama, yaitu “B” dan karakter ditambah ciri-cirinya juga sangat mirip . Secara tiba-tiba ia menjauhiku tanpa ku ketahui apa sebabnya. Selain menjauhiku Caren juga mengatakan hal buruk yang tidak benar tentangku kepada teman-teman akrabku lainnya. Hal itu membuat mereka merasa eifeel padaku dan ikut menjauhiku. Selain itu Carenpun sering membohongiku dan melakukan hal-hal lain yang cukup menyakitkan. Aku bingung bukan kepayang karena sahabatku yang selama ini aku sayangi dan aku percayai mendadak berubah 100% menjadi orang yang paling membenciku bahkan seperti musuhku sendiri. Walau aku dan Caren sedang terjadi konflik aku tetap duduk sebangku dengannya, tapi hal ini sepertinya membuat Caren tidak nyaman. Ia tidak memperdulikanku seikutpun, bahkan ia seperti tak sudi menatap mukaku, ia lebih memilih mengobrol dengan teman-teman yang lain dibandingkan aku sahabatnya sendiri. Hatiku terasa sangat perih


mengingat dan memikirkan perilaku Caren yang semakin lama semakin menyayat hati, di tengah lamunanku terbesit celetukan kecil yang membuatku bingung “My Friend Or My Enemy”, yah entah mengapa pertayaan itu terasa berputar-putar mengelilingi kepalaku dan akupun berusaha mencari jawaban dari pertanyaan itu “kalau Caren memang sahabatku mengapa ia melakukan hal ini dan adakah sahabat sepertinya?, akan tetapi jika dia musuhku sejauh dan semudah itukah aku mengangap sahabatku sendiri sebagai musuh. Huft, entahlah mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya” gumam ku.


“Teng, teng, teng” bel sekolah berbunyi menandakan bahwa waktunya untuk kembali ke rumah masing-masing. Tanpa basa-basi segera ku bereskan peralatan tulisku dan segera meninggalkan kelas, karena aku sudah tidak tahan diabaikan seperti ini. Di tengah perjalanan tiba-tiba teman-temanku berlarian sambil memanggilku. “Elyu, punya waktu sebentar, ada yang kita ingin bicarakan denganmu!” kata teman-temanku dengan nada terengah-engah. “ehm, iya” jawabku singkat sambil menengok ke kanan kiri berusaha mencari Caren diantara kerumunan teman-temanku, ternyata nihil tidak ada Caren di sana. Walau sedikit takut jika temanku akan marah atau mengatakan hal yang membuat hati kecil yang sudah tergores menjadi lebih parah, atau hal-hal lain yang akan membuatku semakin terpuruk. Pikiran-pikiran itu membuat langkah ku terasa sangat berat dan ingin mengurungkan niatan untuk menanggapi ajakan temanku. Tetapi ternyata dugaanku salah, teman-temanku seperti berada di pihakku, tujuan mereka mengajakku mengobrol adalah untuk memastikan hal yang sebenar-benarnya dari mulutku sendiri, karena ternyata akhir-akhir ini Caren selalu mengejek dan menghina serta mengatakan hal buruk yang tidak-tidak tentangku, walau awalnya sebagian temanku percaya, tetapi lama-kelamaan mereka merasa ada sesuatu yang janggal, karena memang cerita Caren seperti terlalu dibuat-buat dan sangat jauh dari kepribadianku. Mendengar penjelasan temanku sebenarnya aku merasa sedikit lega, akan tetapi mengetahui bahwa sahabatku sendiri mengatakan hal seperti itu tentangku rasanya aku ingin sekali menangis, “My Friend Or My Enemy” pertanyaan itupun kembali muncul di benakku.

Setelah selesai berbincang-bincang dengan temanku dan membenarkan keadaan, akupun melanjutkan perjalanan menuju rumah tercinta bersama teman-temanku. Sesampainya dirumah seperti biasa aku menjalakan ibadah shalat dzuhur, dan seperti biasa pula di tengah do’a yang kupanjatkan air matakupun mengalir dan tak bisa di bendung lagi, kuluapkan segala hal yang aku pendam dan tanpa aku sadari, entah mengapa mungkin karena rasa kesalku yang sudah


memuncak dan sudah tidak bisa menahan amarah serta bersabar lagi aku mengucap kata-kata yang sepertinya kurang baik “semoga Caren merasakan apa yang aku rasakan selama ini!” entah mengapa kata-kata itu tiba-tiba terucap di tengah do’aku. Selama konflik yang terjadi antara aku dan Caren, di setiap do’a yang aku panjatkan seusai shalat dan saat aku terbangun di tengah malam, aku memang selalu menangis meluapkan seluruh rasa piluku yang aku pendam. Tak hanya perilaku Caren saja yang membuat air mataku mengalir, akan tetapi entah mengapa rasa rinduku terhadap kedua orang tuaku dan hal-hal lainnya ikut menari-nari di pikiranku dan membuat air mataku seakan tidak bisa berhenti mengalir. Setelah merasa sedikit lega aku melanjutkan aktivitasku yang lain tapi entahlah pikiranku seperti tak bisa berhenti memikirkan jawaban dari pertanyaan yang sedari tadi membebaniku, “My Friend Or My Enemy” pertanyaan ini seperti terus membayangiku dan walau sudah aku pikirkan berkali-kali tetap saja aku tidak bisa menemukan jawabannya, menjawab pertanyaan ini bagaikan aku mengejar bayanganku sendiri, sampai kapanpun ku kejar aku tidak akan pernah bisa menangkkapnya.

Ke esokkan harinya saat di sekolah teman-temanku kembali menemaniku. Sedikit lega memang karena sudah tidak ada kesalahpahaman antara aku dan mereka, tetapi kurang lengkap rasanya karena tidak adanya Caren diantara canda tawaku bersama teman-teman. Saat pulang sekolahpun aku hanya pulang bersama teman-temanku dan lagi-lagi tanpa Caren, walau sedikit aneh tapi aku berusaha tidak memperdulikan perasaanku itu dan berusaha menanamkan prinsip bahwa mungkin kini Caren sudah mendapat sahabat baru yang lebih baik, dan meninggalkan sahabat lamanya, bahkan menganggap sahabat lamanya sebagai musuh barunya. Walaupun sebetulnya sepanjang hidupku aku tidak ingin mempunyai musuh, tetapi dengan sikap Caren yang seperti itu, dan usaha-usahku untuk meminta maaf dan berdamai sia-sia aku berpikir bahwa jawaban dari pertanyaan yang sedari kemarin membayangiku adalah “yeah maybe you’re my enemy”. Sedikit terdengar egois dan keterlaluan memang, tetapi sepertinya itu sebanding dengan apa yang aku rasakan dan apa yang dilakukan Caren padaku akhir-akhir ini. Sesampainya di rumah saat aku sedang melepaskan sepatuku, terdengar suara orang mengetuk pintu. Dengan sigap segera kulangkahkan kakiku dan segera membuka pintu, akan tetapi ada suatu hal yang membuatku sangat terkejut. Secara cepat tiba-tiba Caren memelukku sambil bercucuran air mata, siapa juga yang tidak kaget jika melihat orang yang akhir-akhir ini memperlakukanmu dengan kurang baik tiba-tiba memelukmu dan dengan keadaan yang sepertinya sedih. Pikiranku mengatakan bahwa,” sepertinya ini hanyalah acting karena memang dia kan jagonya acting. Atau mungkin ini hanya untuk menarik simpatiku and temen-temen aja?” pikirku. Tapi anehnya hatiku seperti berkata lain, aku seperti diperintahkan untuk menolong sahabatku yang sepertinya sedang bersedih. Sesaat kedua pemikiran yang berbeda ini membuatku bingung, tak lama kemudian aku lebih memilih apa kata hatiku karena sepertinya itu lebih baik. Saat ku tanya apa yang membuatnya menangis, Caren diam seribu kata dan hanya terus menangis sambil memelukku dengan erat. Entah mengapa melihat ia terus menangis akupun ingin ikut meneteskan air mata. Beberapa menit kemudian Caren sudah terlihat lebih tenang, aku segera mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk menceritakan apa yang terjadi. Setelah aku mendegar penjelasannya aku sedikit terkejut dan merasa bersalah, aku merasa sepertinya Sang Pencipta mendegarkan do’a yang aku panjatkan kemarin karena hal yang diceritakan Caren sama persis seperti yang aku rasakan, tetapi itu hanyalah awal. Sepintas aku berpikir “Bagaiman jika ia merasakan hal-hal yang terjadi setelah ini. Ini hanyalah awal hal menyakitkan yang ku rasakan karena perbuatannya, ini belum sampai akhir bahkan belum se-perempat perjalanan tapi kenapa ia sudah merasa sangat terpukul, tidak tahukah ia bagaimana perasaanku, bagaimana jika ia berada di posisiku? Menangis setiap malam sampai-sampai air mata ku kering dan tak dapat menetes lagi”. Tetapi melihatnya menangis tersedu-sedu aku sangat tidak tega dalam batinku, aku berdo’a agar Allah bisa membuat persahabatanku bersama Caren dan teman-teman lainnya seperti sedia kala. Walau terasa pelik memang pikiranku mengatakan aku ingin hal ini terus terjadi agar Caren merasa jera akan perbuatannya dan merasakan apa yang kurasakan, akan tetapi hatiku ia berkata lain. Aku tidak tega membiarkan sahabatku menderita. “Yah, setidaknya mungkin maaf adalah jalan yang terbaik, setidaknya Caren sudah terlihat menyesali perbuatannya” gumamku. Haripun sudah nampak akan segera sore, Carenpun pulang menuju rumahnya dengan senyuman kecil dan air mata yang masih sedikit menetes membasahi pipinya. Hal itu terasa sangat asing, karena biasanya Caren pulang dengan tertawa bahagia dan gaya sedikit tomboynya yang khas. Namun kali ini ia menangis, dan ia berjalan seperti hanya mengikuti hembusan angin tanpa tujuan dan tanpa semangat. “Sepertinya ia masih merasa sedih. Huft.. apa yang harus aku lakukan agar persahabatanku, Caren dan teman-temanku yang lain kembali bersemi? Apakah aku harus mengembalikan kepercayaan teman-temanku padanya? Aku saja bingung sebenarnya aku sudah bisa memaafkannya atau tidak?” pikirku sambil melihat Caren yang berjalan semakin jauh dan berbelok sehingga tak nampak lagi. Aku terus menerus berpikir bagaiman caranya membuat persahabtanku utuh kembali, dan sepertinya tidak mudah untuk mengembalikan kepercayaan seseorang. ”Nila setitik merusak susu sebelanga” yah sepertinya pepatah ini sangat cocok dengan keadaanku saat ini.




Ke esokkan harinya aku datang ke sekolah agak terlambat. Tetapi saat aku masuk ruang kelas, aku sangat terkejut. Teman-temanku berlari menuju arahku dan mengajakku untuk segera bergabung dengan mereka, ditambah lagi di antara mereka juga ada Caren. Kitapun membentuk lingkaran dan bergurau besama, melihat semua teman-temanku tertawa dan seperti tidak pernah terjadi apa diantara kita rasanya aku sangat lega, setidaknya hal yang aku pikirkan kemarin sudah tidak perlu susah-susah kupikirkan lagi karena kita berdamai tanpa perlu melakukan pendekatan yang rumit. Caren sudah tidak pernah mengatakan hal buruk tentangku kepada teman-teman, akan tetapi terkadang ia masih mengatakan hal buruk yang tidak benar tentangku hanya kepada Brandon cowok idolanya. Hal itu tidak membuatku sedih ataupun marah, karena Brandon sendiri hanya mengangukkan kepala untuk merespon cerita Caren dan seperti tidak mempercayainya, kata-katanya pun sudah tidak sepedas dan seburuk kemarin, sehingga tidak berpengaruh apapun padaku. Carenpun sepertinya dengan melakukan hal itu, ia nampak lebih nyaman, aman, dan senang. Setidaknya itulah prinsip baruku “Apapun yang terjadi aku tidak boleh gampang terbawa emosi, dan apapun itu akan ku usahakan dan ku relakan demi persahabatan”.

Kini aku bersama teman sekelasku sudah lulus dari sekolah dasar dan melanjutkan di sekolah menegah pertama. Banyak sekolah yang dituju oleh teman-temanku. Awalnya aku dan Caren ingin berada dalam satu sekolah yang sama, akan tetapi nilai berkata lain. Nilaiku yang sedikit lebih tinggi dari pada Caren membuat kita tidak bisa berada di sekolah yang sama. Semenjak SMP aku menjadi sosok yang lebih individual, aku jarang sekali keluar rumah untuk bertemu teman-temanku. Di balik sikapku itu, Caren selalu berusaha mengajak teman-teman untuk berkunjung ke rumahku agar ikatan persahabatan kita tidak pupus. Walaupun sebenarnya setelah terselesaikannya konflik antara aku dan Caren dan sampai kini aku tidak pernah mendengar Caren mengucapkan kata “maaf”, tetapi aku merasa bahwa Caren sangat menyesali perbuatannya dan sudah melupakan hal itu. Aku mendapat banyak pelajaran yang sangat berharga. Bahwa jika kita mempunyai suatu perasaan tidak suka kepada teman kita, bicarakanlah hal tersebut secara perlahan dan lembut, niscaya temanmu itu akan merubah hal tersebut. Dan janganlah kamu terbawa emosi terlebih sampai bermusuhan hanya karena permasalahan dan kesalahpahaman kecil, terus berusahalah walau kita harus terus menerus terjatuh saat memperbaiki hubungan persahabatan kita yang di ambang kerusakan. Dan janganlah kamu menusukkan benda tajam walau itu hanyalah jarum kecil diantara ikatan persahabatanmu, karena setitik tusukkan jarum saja itu bisa membuat persahabatan yang tak ternilai harganya hancur berkeping-keping. Pastinya masih banyak pelajaran-pelajaran lain yang dapat ku simpulakan dari pengalaman tersebut. Hari-hari demi hari kulewati, tahun demi tahunpun silih berganti, walau aku dan Caren sudah jarang bertemu karena disibukkan dengan urusan masing-masing, akan tetapi hubungan persahabatan kita masih erat. Aku dan Caren sering mengirim pesan dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menjaga hubungan komunikasi dan persahabtan kita. Walau sebenarnya rumah kita mempunyai jarak yang cukup dekat, tetapi rasanya seperti jarang ada waktu luang untuk bertemu, kitapun hanya sempat bertemu di event-event tertentu. Tetapi hal itu tidak membuat ikatan persahabatanku dengan Caren putus atau memudar, kita akan selalu mengingat satu sama lain. Dan walaupun kita mempunyai banyak teman baru, hal itu juga tidak berpengaruh sedikitpun. Semakin dewasanya kita membuat pikiran kita juga semakin dewasa, kini aku tak ingin lagi mengalami konflik dengan sahabatku apalagi sampai timbul perpecahan. Sehingga aku akan terus berusaha berpikir lebih dalam saat mengambil suatu keputusan terlebih jika itu berhubungan dengan sahabatku. Dan aku terus belajar untuk mengendalikan emosiku, sehingga jika suatu saat aku mengalami hal serupa aku tidak lantas sedih ataupu marah. Karena sesungguhnya semua hal menyebabkan konflik bisa diatasi dengan kepala dingin bukan dengan pertengkaran. Pengalaman itupun seperti membekas di benakku, dan kujadikan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, agar tidak terulang lagi. Membekas di benakku bukan berarti aku selalu mengingat dan tak bisa melupakan hal itu, melainkan aku menjadikannya sebagai pegangan. Masa lalu memang biarlah berlalu, akan tetapi tengoklah masa lalu untu pelajaran di masa kini dan masa yang akan datang,karena pengalamanlah yang mendewasakan kita bukan waktu. Pertayaan yang dulu selalu menghantuikupun kini sudah bisa kujawab “My Friend Or My Enemy”. “Yeah, now I belive she is my friend, and forever friend.”





THE END
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Daily Quotation - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger